TIDAK PULANG.

1182 Words
Klak. Pintu tidak dikunci. Dengan mudahnya Gandi bisa membukanya. Pria itu lalu geleng-geleng kepala. "Tidak menjaga keselamatan sekali sih membiarkan pintu tanpa dikunci seperti ini. Kalau ada orang jahat masuk bagaimana coba?" Gandi mengoceh sendiri sembari melangkah masuk. Setelah menutup pintunya kembali, dia mencari Putri di kamarnya. Dia mendapati istri keduanya yang dia nikahi secara siri itu tengah terbaring di atas tempat tidur. "Kamu tidak mengunci pintu rumahnya, Put. Itu berbahaya lho," ucap Gandi sembari mengambil duduk di tepi tempat tidur. "Aku sengaja tidak menutupnya agar kamu bisa masuk dengan mudah, Gan." "Iya, aku mengerti. Tapi lebih baik kamu menjaga keselamatan kamu dulu. Kalau aku datang, aku kan pasti mengetuk pintunya. Kamu bisa mendadak membukakannya kan?" "Kepalaku pusing kalau mesti bolak-balik membuka pintu. Jadi aku biarkan saja tidak dikunci." Gandi menipiskan bibir, memutuskan untuk tidak lagi membahas perihal pintu yang tidak dikunci. Dia lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Putri untuk mengecek suhu sang istri. Keningnya berkerut. "Tidak panas kok, Put. Suhunya normal." "Badanku memang tidak begitu panas, Gan. Tapi kepalaku pusing. Entah mengapa." "Ya sudah, kalau begitu kamu minum obat dulu saja. Kalau besok masih belum sehat juga, baru kita ke dokter." Putri mengangguk. Gandi beranjak dari duduknya menuju dapur. Dia mengambil segelas air putih dan membawanya kembali ke kamar. "Ayo, obatnya diminum dulu." Perlahan Putri bergerak duduk. Dia lalu menerima gelas yang diulurkan Gandi kepadanya sebelum akhirnya menenggak obat yang dibeli oleh Gandi di apotik. Sebenarnya, dia memang tidak sakit. Tapi hanya pura-pura sakit untuk mengambil hati Gandi dan membuat suaminya itu renggang dengan Nadia. Dia ingin Nadia segera tahu kebenaran ini tanpa harus dia beri tahu karena Gandi tidak mengizinkannya. "Apa kata Nadia ketika kamu izin keluar, Gan?" tanya Putri penasaran. Sesungguhnya dia sengaja membubuhkan bekas ciuman di bahu belakang jas Gandi tanpa sepengetahuan suaminya itu. Dia ingin Nadia yang melihatnya dan kemudian marah pada Gandi sehingga pertengkaran terjadi di antara mereka. "Tidak banyak bicara kok. Dia hanya bertanya aku mau kemana saja. Ya... aku jawab saja bertemu klien. Beres." "Dia tidak marah?" tanya Putri penuh selidik. "Eee tidak sih kalau marah. Hanya terlihat kurang senang saja. Ya itu wajar. Yang namanya istri pasti tidak suka suaminya keluar malam. Sebelum menikah dengan kamu pun dia sering ngambek untuk hal ini." "Tapi di rumahmu tidak ada pembantu kan?" Gandi mengangguk. "Iya, tidak ada." "Jadi yang mengurus bajumu pasti dia kan?" "Tentu saja. Siapa lagi?" Dahi Gandi mengerut. "Pertanyaan kamu ini aneh lho. Kenapa kamu jadi bertanya tentang tugasnya?" Putri menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya ingin tau saja." Putri lalu tercenung memikirkan ini. Bagaimana bisa tidak ada pertengkaran di antara Gandi dan Nadia jika istri pertama suaminya itumelihat bekas ciumannya di jas Gandi? Atau Nadia memang tidak melihatnya dan langsung memasukan jas ke mesin cuci? Putri mendengus kecewa. Setelah usaha pertamanya menaruh celana dalamnya di koper Gandi tak begitu berpengaruh, kini meninggalkan jejak ciuman pun gagal. Gandi mengusap pipi Putri yang mulus. "Kamu kenapa? Kok seperti sedang memikirkan sesuatu? Kamu sedang memikirkan tentang Nadia ya? Takut ketahuan olehnya? Sudah tenang saja. Jangan kamu pikirkan. Nadia biar jadi urusanku saja. Selama kita semua tidak membongkar pernikahan ini kepadanya, maka dia tidak akan tau. Makanya kita harus bisa bermain cantik. Kamu paham kan?" Putri memaksakan senyum. Gandi salah menebak, justru dia ingin Nadia tahu rahasia ini agar terjadi pertengkaran hebat dan kemudian terjadi pertengkaran. Lagian, untuk apa mempertahankan istri mandul seperti Nadia. Bagusnya juga istri seperti itu dibuang. *** Gandi hanya satu jam di rumah Putri. Tapi di tengah perjalanan pulang, ponselnya berdering. Dia mengira yang menelponnya adalah Nadia. Nyatanya bukan. Yang menelpon adalah Ambar sang mama. "Ya ada apa, ma?" tanya Gandi dengan mengaktifkan mode pengeras suara di ponselnya. Jadi kedua tangannya tetap bisa fokus pada kemudi. "Kamu di mana sekarang?" Suara Ambar. "Di jalan, ma. Habis mengantarkan obat ke rumah Putri." "Lho, memangnya putri kenapa? Sakit?" "Iya, katanya sih pusing. Tapi waktu aku pegang keningnya, tidak panas. Suhu tubuhnya normal. Barangkali dia hanya kelelahan." "Pusing tapi tidak panas?" "Iya." "Merasa mual tidak?" "Nah, aku kurang tau karena tidak bertanya. Tapi sepertinya tidak. Sebab Putri tidak mengeluh mual." "Dan kamu tinggalkan begitu saja?" "Ya, bagaimana lagi, ma? Aku kan harus pulang." "Lupakan rumahmu! Sekarang kembali ke rumah Putri. Temani dia malam ini." "Tidak bisa dong ma. Nanti Nadia bertanya kenapa aku tidak pulang. Dia bisa curiga lho. Dan lagi sudah aku bilang kalau dia hanya pusing saja. Dia sudah minum obat tadi." "Bukan begitu. Bisa jadi Putri pusing tanpa demam itu karena dia hamil. Orang hamil memang suka begitu. Pusing mual tanpa demam. Kalau memang benar hamil, kamu harus siaga. Jangan tinggalkan dia dalam keadaan seperti ini. Besok, kamu bawa dia periksa ke dokter untuk memastikannya karena kalau dibawa ke dokter sekarang sudah malam." Mata Gandi melebar mendengar itu. Jantungnya berdebar-debar oleh perasaan senang. "Benarkan begitu, ma?" "Ya, mungkin saja tho. Buktinya Putri mengeluh pusing kan?" "Iya, ma. Wah, kalau begitu aku jangan meninggalkannya. Tapi... bagaimana dengan Nadia, ma. Dia pasti bertanya kenapa aku tidak pulang." "Kamu bilang saja kalau kamu ke rumah mama. Bilang mama agak kurang sehat dan ingin ditemani kamu. Kalau dia sampai menelpon mama, mama akan mengatakan itu juga. Lagian istri tidak berguna sepertinya, untuk apa kamu beri perhatian lebih. Lebih baik kehilangan dia daripada kehilangan istri yang bisa memberi keturunan." "Mama please jangan bicara seperti itu. Aku mencintainya, ma. Dan rasa itu tidak hilang." "Halah, berlebihan kamu. Sebelum menikah kita memang butuh cinta. Tapi sesudah menikah kita butuh harta dan keturunan. Untuk apa cinta kalau makan saja sulit. Begitupun untuk apa cinta jika harta yang dipunya sia-sia karena tidak ada ahli waris." Gandi terdiam. Ambar ada benarnya juga. Akan tetapi karena rasa cintanya ini, dia tidak akan menceraikan Nadia. *** Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi Gandi masih juga belum terlihat pulang. Nadia jadi gelisah karena ini. "Apa yang Mas Gandi lakukan di rumah itu jika di jam segini masih belum pulang juga? Mengapa hatiku semakin ke sini semakin yakin dengan apa yang aku lihat dan temukan, Mas Gandi memang berselingkuh. Tapi siapa wanita selingkuhannya?" Pikiran Nadia tak menentu. Otaknya terasa penuh dengan beban pikiran yang sangat banyak sehingga rasanya mau pecah. Dan Nadia termasuk tipe orang yang tidak suka rasa penasaran. Dia baru akan merasa plong jika telah mampu menyelesaikan masalah. Meskipun mungkin itu akan membuatnya terluka. Nadia pun mengambil ponselnya dari atas meja rias dan menelpon Gandi. "Halo, Nad. Ini sudah malam. Kamu belum tidur sampai menelpon seperti ini?" tanya Gandi di seberang. "Bagaimana aku bisa tidur kalau mas belum pulang? Mas kemana saja malam-malam begini? Masak klien mas tidak mengerti kalau butuh istirahat?" "Tidak. Bukan itu alasan aku belum pulang, Nad. Aku menginap di rumah mama karena mama sedang agak kurang sehat. Dak ingin ditemani olehku. Jadi sebenarnya tadi aku sudah pulang. Tapi di tengah jalan mama menelpon dan memintaku datang. Jadi ya... Akhirnya aku tidak pulang." Nadia mengigit bibir bawahnya. "Mas tidak bohong?" "Kenapa aku harus bohong? Kalau tidak percaya, telpon saja mama." Nadia menyerah. Dia tidak mungkin menelpon mertuanya itu, apalagi setelah mendengar kurang sehat. Tapi yang pasti, dia akan mendatangi rumah yang tadi dimasuki Gandi. Dia sangat penasaran dengan pemiliknya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD