Mengikuti Gandi

1242 Words
“Kamu masak apa malam ini, sayang?” tanya Gandi sembari menarik kursi makan. “Sayur asam, ayam sambal ijo, perkedel kentang, dan goreng tempe,” jawab Nadia tanpa menoleh. Fokus menyusun makanan di atas meja. Gandi melirik Nadia. Jelas sekali Nadia tampak dingin tidak seperti biasanya. Apa ini perkara ponsel yang dipasang sidik jari? Batin Gandi dalam hati. “Hmm, Nad…” “Ya,” balas Nadia sembari menaruh piring yang berisi nasi ke hadapan Gandi. “Soal ponsel itu aku harap kamu tidak berpikiran yang macam-macam.” Nadia yang sudah duduk di kursi di depan Gandi, terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Soal itu… aku pasrahkan sama mas. Asal mas tidak membohongi dan membodohi aku, tidak masalah. Tapi jika mas berkhianat di belakangku maka….” Gandi menyipitkan matanya. “Maka apa?” “Maka aku tidak bisa menerimanya.” Gandi menghela nafas berat. Jantungnya berdebar mendengar jawaban Nadia. “Y-ya aku mengerti.” Gandi langsung menarik piringnya agar lebih dekat dan mulai menikmati makan malamnya. Beberapa kali dia melirik Nadia dan mendapati wanita itu tidak mau menatap matanya. Gandi merasa heran, tapi segan untuk bertanya. Dia berpikir mungkin Nadia hanya sedang capek jadi agak marah. Wanita kebanyakan seperti itu. Marah tanpa alasan. Gandi pun meneruskan makannya. Tapi baru saja beberapa suap, ponsel yang ada di kantong celananya bergetar. Gandi mengeluarkan ponsel tersebut dari dalam sana dan terhenyak melihat siapa yang menelpon. Dia melirik Nadia. Istrinya itu tengah menatapnya lekat. “Dari siapa, mas?” tanya Nadia dengan tatapan curiga. “O e dari klien. Sebentar aku angkat telponnya dulu.” Gandi beranjak dari duduknya. “Kalau hanya telpon dari klien, mas bisa menerimanya tanpa harus meninggalkan kursi mas lho.” Gandi menghentikan langkahnya dan menoleh pada Nadia. “Eee… aku… aku tidak leluasa jika bicara di depan kamu. Aku akan menerimanya di teras.” Gandi meneruskan langkahnya. Nadia menaruh sendoknya ke atas piring. Selera makannya hilang seketika gara-gara telpon yang kata Gandi adalah dari kliennya itu. Kecurigaan Nadia kepada Gandi semakin menjadi saja. Itu karena sikap Gandi yang aneh. Sementara itu di teras, Gandi berbicara dengan berbisik. “Ada apa? Aku kan sudah bilang ke kamu kalau aku di rumah kamu jangan sampai telpon dan kirim pesan tanpa seizinku. Nanti Nadia curiga. Kita kan sudah bertemu tadi.” “Maaf kalau aku mengganggu, mas. Tapi aku tidak tau harus meminta tolong pada siapa. Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing. Sepertinya aku demam deh. Mas bisa tidak membelikan aku obat demam? Sesudah itu mas boleh pergi lagi deh.” Gandi mengigit bibir bawahnya. “Aduh, alasan apa yang harus aku pakai untuk keluar agar Nadia tidak curiga. Waktu tadi kamu menelpon saja dia menatapku dengan tatapan curiga.” “Ayolah mas, please. Sebentar saja.” Gandi tampak bingung, tapi tak sanggup menolak permintaan Putri. “Ya ya sudah. Aku akan ke sana sekarang.” "Oke, aku tunggu mas. Hati-hati di jalan." Gandi berbalik. Dia tersentak luar biasa ketika mendapati Nadia sudah berdiri di depan pintu. Apa lagi tuts ponse. Dahi Nadia mengerut. “Apa itu penting mas tanyakan? Mau sejak kapan aku berdiri di sini, aku rasa itu tidak masalah kan?” “Ya tidak masalah. Hanya saja aku terkejut.” Gandi melirik miring pada Nadia. “Kamu tidak mendengar apa yang aku dan klienku bicarakan bukan di telpon?” “Memangnya pembicaraan kalian sangat rahasia ya sampai tidak boleh didengar olehku?” Nadia bertanya balik. “Ya… begitulah.” Nadia menyeringai. “Mas ini aneh deh. Mas kan sedang bicara dengan klien bukan selingkuhan. Terus kenapa aku tidak boleh mendengar? Kalau memang benar bicara dengan klien, paling juga yang kalian bicarakan adalah tentang bisnis kan?” “Ini… bisnisnya lain. Aku tidak mau siapa pun tau jika belum mencapai tujuh puluh persen.” "O begitu," sahut Nadia tidak percaya. Tapi dia tidak mau mendebat Gandi karena kecurigaannya belum mendapatkan bukti yang jelas. "Lalu sekarang mas akan kemana?" "Maksudmu?" "Bukankah di telepon tadi mas bilang mau akan ke sana? Ke sana kemana?" Mata Gandi melebar. Mengapa dia sendiri jadi lupa kalau akan pergi menemui Putri. Rasa gugup membuyarkan konsentrasinya. "Y-ya kamu benar. Aku memang akan pergi menemui dia." "Dia siapa?" Nadia terus bertanya. "Dia klienku dong. Kalau begitu aku langsung pergi saja sekarang biar tidak pulang kemalaman. Iya kan?" Tanpa menunggu jawaban Nadia, Gandi masuk ke dalam untuk mengambil kunci mobil dan keluar lagi dengan kunci mobil serta dompet. Gandi mengecup kening Nadia sebelum akhirnya membuka pintu mobil. "Aku pergi dulu ya, sayang. Tidak lama kok," ujarnya. Tak lama kemudian mobil itu bergerak meninggalkan halaman rumah. Begitu kepala mobil tak terlihat lagi dan hanya terlihat badan mobil, Nadia cepat-cepat mengunci pintu rumah dan berlari ke tepi jalan. Kebetulan sekali sebuah taksi lewat. Nadia pun langsung menyetop taksi tersebut. "Pak, ikuti mobil di depan jangan sampai kehilangan jejak." Sang supir mengangguk. "Baik non." Taksi bergerak sesuai perintah Nadia. Yaitu mengikuti mobil Gandi. Saat ini Nadia tidak membawa uang sama sekali karena ide ini datang tiba-tiba dan tidak lagi sempat membawa dompet. Tapi dia akan membayar ongkos taksi sepulangnya dari menjalankan aksi mendadak. Bahkan sangking mendadaknya dia hanya mengenakan daster dan sandal jepit. Taksi tiba-tiba berhenti karena mobil Gandi juga berhenti. Suaminya itu keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam sebuah apotik. Nadia memperhatikan itu dengan seksama. Kalau untuk bertemu dengan klien, untuk apa Gandi ke apotik? Apa mungkin kliennya ada di apotik? Atau Gandi berencana membuka bisnis dalam bidang obat-obatan? Pertanyaannya tak lama kemudian terjawab. Gandi keluar apotik dengan sebuah plastik. Itu artinya Gandi hanya membeli obat di apotik tersebut. Tapi obat untuk siapa itulah yang kemudian menjadi pertanyaannya. "Nona, apa kita masih harus mengikuti mobil di depan?" tanya sang supir. "Tentu saja, pak. Aku harus tau kemana tujuan akhir mobil itu," jawab Nadia. "Baiklah kalau begitu, non. Tapi saya minta bayarannya dilebihkan ya. Apa yang kita lakukan ini beresiko lho. Kalau ketahuan bagaimana?" "Iya. Bapak tenang saja. Yang penting bapak jangan kehilangan jejak mobil di depan." "Oke. Tenang saja, non. Saya hobi kalau diminta untuk mengikuti orang seperti ini. Rasanya seperti sedang main film action." Nadia tersenyum miris. Sang supir bisa-bisanya bercanda di waktu yang tidak tepat seperti ini. Taksi kembali bergerak mengikuti mobil Gandi yang sudah lebih dulu bergerak. Rupanya mobil Gandi memasuki sebuah kompleks perumahan. Sontak itu membuat hati Nadia ketar ketir karena baru sekali ini dia memasuki komplek perumahan ini. "Apa kliennya tinggal di perumahan ini?" Pertanyaan semacam ini terus terngiang di benaknya. Antara rasa takut sakit hati, khawatir, dan penasaran bercampur aduk menjadi satu. Taksi kembali berhenti di jarak aman. Maksudnya di jarak yang cukup jauh dari mobil Gandi yang berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Terlihat Gandi keluar mobil dan membawa sesuatu yang dibelinya tadi di apotik. Kemudian, Gandi tak terlihat lagi karena masuk ke dalam pagar rumah. Nadia tercenung melihat hal itu. Dia yakin sekali kalau rumah tersebut bukan rumah klien Gandi, karena setahunya selama ini klien suaminya kaya-kaya. Jika melihat dari rumah dan lingkungan perumahan yang dipenuhi oleh rumah-rumah semacamnya, maka yang didatangi oleh Gandi adalah orang biasa. "Bagaimana non? Apa nona mau turun untuk masuk ke dalam rumah itu?" tanya sang supir taksi lagi. Nadia cepat menggeleng. "Tidak pak. Sekarang kita pulang saja. Yang penting aku sudah tau tujuannya. Besok aku akan kembali ke rumah ini lagi untuk mencari tau siapa pemilik rumah itu." Sang supir angguk-angguk. "Baikahlah kalau begitu. Berarti sekarang kita pulang ya?" "Ya, pak. Kita pulang sekarang. Aku harus lebih dulu sampai ke rumah sebelum dia." "Oke, kita jalan...!" Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD