Hamil?

1129 Words
"Siapa yang telpon, Gan?" Putri menengadahkan wajahnya ke wajah Gandi, sedang tangan tetap melingkari tubuh suaminya tersebut. "Siapa lagi kalau bukan Nadia? Tentu dia bingung aku belum pulang," jawab Gandi seraya menaruh ponselnya ke atas nakas. "Pastilah, Gan. Kasihan ya Nadia." Putri berpura-pura perhatian pada istri pertama Gandi tersebut. "Ya mau bagaimana lagi. Mama bersikeras memintaku menemani kamu. Dia berpikir kamu hamil dan besok harus ke dokter." Putri terhenyak. "Apa? Ke dokter? Aku kan hanya sakit biasa, Gan?" "Menurut kamu sakit biasa, tapi menurut mama kamu itu hamil. Jadi untuk memastikan aku harus mengantarmu ke dokter." "Darimana mama berpikir kalau aku ini hamil? Aku kan hanya mengeluh pusing. Lagian aku belum tepat datang bulan kok." "Pusing adalah salah satu ciri-ciri dari kehamilan kata mama. Lagian tidak ada salahnya kan kita periksa ke dokter. Barangkali kamu memang hamil. Mama itu sudah girang sekali lho waktu aku bilang kamu hamil." Putri menelan salivanya. Dia yakin dirinya tidak hamil seperti sangkaan mama mertuanya karena pusingnya bohongan. Mendadak dia jadi khawatir kalau akan mengecewakan sang mama mertua tersebut. "Bagaimana kalau ternyata aku tidak hamil?" "Hamil tidak hamil itu urusan besok. Ayolah kita lanjutkan tidur. Nanti kepalamu jadi tambah pusing lagi." Gandi menarik Putri ke dalam pelukannya. Tak lama kemudian matanya memejam. Pagi harinya, Gandi dan Putri dikagetkan dengan kedatangan Ambar. Wanita tua itu datang dengan wajah yang berseri-seri. Tentu saja kedatangan Ambar membuat pasangan suami istri tersebut kaget. "Mama! Kok mendadak datang begini?" tanya Gandi bingung. "Mama kan mau mengantar menantu mama ke dokter. Makanya datang," jawab Ambar seraya merengkuh bahu Putri. "Kan ada aku, ma?" Gandi menunjuk dirinya sendiri. "Aku rasa aku saja cukup kok." Ambar menggeleng. "Tidak. Kalau untuk urusan seperti ini, tidak cukup hanya kamu. Mama harus ikut dan menjadi orang pertama yang mendengar vonis dokter kalau Putri hamil." Putri mengigit bibir bawahnya. Perasaannya kian tidak enak saja. Namun dia tidak punya kemampuan untuk mengusir sang mertua dan terpaksa membiarkan Ambar mengantarnya ke rumah sakit. Sementara mereka pergi, Nadia datang ke rumah Putri dengan menggunakan sepeda motor. Wanita itu mengamati rumah tersebut dari jarak yang dekat. Tidak ada mobil milik Gandi suaminya yang terparkir di sana dan rumah juga dalam keadaan sepi. Nadia tercenung. Mungkinkah kalau Gandi memang tidak bermalam di rumah ini melainkan di rumah mertuanya. Itu artinya suaminya tidak bohong. Tapi siapa pemilik rumah ini sehingga semalam Gandi mendatanginya? Nadia tidak percaya klien Gandi orang biasa. "Cari siapa, neng?" Nadia terhenyak. Dia menoleh dan mendapati seorang wanita tua menghampirinya dengan membawa sebuah sapu lidi. Wanita tua ini tadi sedang menyapu halaman dan melihat Nadia celingukan di depan rumah Putri. "Oh eh, cari rumah teman, bu. Tapi sepertinya bukan ini deh. Bentuknya saja yang agak sama." "Di sini bentuknya memang banyak yang sama. Namanya juga perumahan. Yang berbeda itu kalau yang sudah direnovasi." "Iya. Sepertinya aku salah masuk blok. Sepertinya blok yang di depan deh rumah temanku itu. Terima kasih ya, bu. Aku permisi." "Iya, neng. Silahkan." Nadia naik sepeda motornya sementara wanita tadi kembali ke pekarangan rumah untuk kembali menyapu. Nadia memutuskan pulang ke rumah. *** "Jadi gimana, dok? Apa menantuku hamil? Sudah jalan berapa Minggu?" Ambar langsung menyerang sang dokter yang baru saja selesai memeriksa Nadia. Putri yang melihat itu hanya tersenyum kecut. Apa yang akan terjadi padanya setelah ini jika dia dinyatakan tidak hamil? Sang dokter yang memeriksa Putri tersenyum geli melihat semangat Ambar yang luar biasa. "Maaf Bu, tapi menantu ibu tidak hamil." Ambar terhenyak. "Oya? Tapi semalam dia mengeluh pusing lho, dok?" "Pusing itu karena banyak sebab, ibu. Pusing bukan berarti pertanda hamil." "Kalau bukan hamil, terus menantuku kenapa?" "Dari hasil pemeriksaan, menantu ibu baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan saja makanya dia merasa pusing." "Apa dokter tidak salah periksa? Barangkali dokter memeriksanya terlalu cepat." Sang dokter kembali tersenyum. Senyum bijaksana. "Saya sangat mengerti perasaan ibu yang ingin segera memiliki cucu dari anak ibu. Akan tetapi, saya merasa sudah cukup teliti dalam memeriksa menantu ibu. Menantu ibu menurut hasil pemeriksaan saya memang tidak sedang hamil. Kita doakan saja semoga bisa secepatnya ya, Bu. Atau begini saja, ibu periksakan anak ibu ke dokter kandungan. Kalau saya kan hanya dokter penyakit dalam. Barangkali saya salah memeriksa." Ambar mengangguk cepat. "Iya. Aku akan membawanya ke dokter kandungan. Aku rasa memang dokter salah memeriksa. Aku yakin menantuku ini hamil." Kemudian mereka berpamitan keluar pada sang dokter. "Gan, langsung kamu daftarkan Putri ke dokter kandungan sekarang," perintah Ambar menggebu-gebu begitu sudah di luar ruangan dokter penyakit dalam. Gandi menurut. "Baik Bu." Tapi Putri langsung memegang tangan Gandi. "Tidak perlu, Gan. Tidak perlu mendaftar lagi." Ambar menarik tangan Putri dari tangan Gandi dengan sedikit kasar. "Kamu ini bagaimana sih, Put? Kok bisa-bisanya melarang. Kita itu mau tau kamu itu hamil atau tidak. Feeling mama kamu hamil lho." "Dokter tadi kan sudah bilang kalau aku tidak hamil, ma," ucap Putri dengan wajah cemas. "Aku rasa aku memang tidak hamil. "Tadi itu kan hanya dokter penyakit dalam. Dia tidak punya kemampuan sebagai dokter kandungan." "Sama-sama dokter aku rasa sedikit tau, ma." "Sudah! Sudah! Sudah!" Ambar mengibaskan tangan berulang. "Pokoknya kamu menurut saja sama mama. Kita periksakan kamu ke dokter kandungan. Periksa kan tidak sakit." bat menoleh pada Gandi. "Sana pergilah mendaftar, Gan! Apalagi yang kamu tunggu?!" "Iya, ma. Iya." Gandi pun melangkah menuju pantry, sementara Ambar dan Putri menunggu di kursi tunggu. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di ruang dokter kandungan. "Ada yang bisa saya bantu pak, Bu?" tanya sang dokter kandungan yang berjenis kelamin perempuan itu. "Ini dok, tadi menantuku sudah periksa ke dokter penyakit dalam. Katanya dia tidak hamil. Padahal semalam dia mengeluh pusing dan saya yakin dia hamil. Karena itu, dok. Tolong diperiksa yang benar. Ini anak pertama mereka lho." "Oh, begitu. Ya sudah, ayo naik ke atas tempat tidur, mbak. Kita u-es-ge ya." Putri mengangguk lesu. Saat ini dia hanya bisa menurut pada perintah sang dokter dan kemauan Ambar. Ambar pasti akan terkejut lagi pas tau dia tidak hamil. Selama beberapa menit sang dokter kandungan menggerak-gerakan sebuah alat di perut bawah Putri dengan mata menatapi layar yang ada di sebelah kanan atas kepala Putri. Dokter itu tampak sangat serius. Itu terlihat dari matanya yang menyipit penuh selidik. Tak hanya sang dokter kandungan yang mengarahkan pandang pada layar, tapi Gandi dan Ambar juga demikian. Hanya saja mereka tidak faham dengan apa yang tampak dilayar. "Bagaimana dok? Menantuku hamil bukan?" tanya Ambar ketika sang dokter kandungan menarik benda yang tadi digerakkan oleh sang dokter ke atas perut bawah Putri. Sang dokter kandungan menghela nafas panjang. Ada gurat kesedihan di sana meskipun kemudian tersenyum. "Aku salut dengan keyakinan ibu yang menginginkan menantu ibu hamil. Tapi... Ibu masih harus bersabar lagi karena berdasarkan hasil pemeriksaan u-es-ge, menantu ibu tidak hamil." Ambar langsung lemas mendengar itu. Perubahan yang terjadi begitu drastis hanya dalam beberapa detik. Kemudian Ambar melirik kecewa pada sang menantu. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD