Mimpi buruk itu datang lagi.
Dan kini untuk kesekian kalinya Eka membuka matanya ditengah malam yang dingin. Perlahan gadis itu bangun dari tidurnya dan menyingkirkan tangan Kalina yang setia menemani tidur malamnya sejak beberapa minggu terakhir, ya meskipun Kalina sadar, Adam pasti tidak akan setuju dengan hal ini tapi menurut Kalina Eka lebih membutuhkannya.
Seulas senyum tipis mengembang di bibir gadis itu, dengan perlahan dia mengusap perut Kalina yang telah sedikit membesar sebelum dia turun ke lantai bawah.
Perlahan gadis itu meneguk segelas air putih dinginnya dan meletakkanya diatas meja bar.
“ Apa yang sedang kamu lakukan Eka?” suara Adam datang mengintrupsinya. Pria Alpha satu itu duduk disamping kursi tinggi gadis itu.
“ Hanya haus.”
“ Tidurlah, ini sudah cukup larut.” Perintah Adam lembut, mengelus surai lembut gadis itu.
“ Kapan mama akan ditemukan?” pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya terlontar dari bibir gadis itu. Matanya menatap mata tajam Adam, menuntut. Eka butuh kepastian. Dia ingin segera bertemu mamanya. Ingin melihat wanita itu setelah hampir 14 tahun lamanya. Salahkah Eka meminta hal sederhana seperti itu?
“ Kami masih terus mencarinya Eka.”
“ Sampai kapan?! Sampai mama benar- benar ditemukan dalam keadaan tak bernyawa?!” matanya menatap Adam marah.
“ Cukup tenang dan jaga kesehatanmu sendiri, Eka! Mamamu tidak akan pernah mau melihat putrinya seperti ini!”
“ Omong kosong. Kalian, tidak pernah sudi mencari mamaku, kan?! b******n busuk! Ah ya sekarang aku paham, itulah sebabnya kalian hanya mengizikan wanita itu dijerat pasal ‘ Peneroran’ bukan penculikan seperti mauku, inilah caramu menyingkirkanku sebagai salah satu pewaris Aditama.”
“ Pikiran bodoh dari mana itu, Eka! Pikirkan lagi semuanya, kita kurang bukti untuk menjerat Mita dengan pasal itu.” sentak Adam tajam.
“ Oh ya?! Kita punya rekaman suara serta foto yang dia kirimkan waktu itu. Kita kurang bukti apa lagi!” Gadis itu menghardik.
“ Kupikir kamu cukup cerdas kenapa hal itu tidak bisa kita lakukan!”
“ Baiklah, angap saja seperti itu. Bukankah mencari seseorang yang lemah seperti Maretha Kusuma sangat mudah. Aku tahu ini hanya akal- akalanmu Adam!”
“ Kamu pikir mudah mencari seseorang yang sudah diubah identitasnya! Asal kamu tahu, tidak ada satupun rumah sakit yang mempunyai pasien bernama Maretha Kusuma?! Wanita itu benar- benar menutup mulutnya sangat rapat, bahkan perawat yang menangani mamamu dengan mudah mereka singkirkan?”
“ Asal anda tahu, kita punya Stefan!”
“ Dan Stefan Busuk, kekasih mantan mama tirimu itu Koma!” Adam lelah berdebat sedangkan Eka mulai mengepalkan tangannya, marah.
“ Pikirkan dampak lain selain kondisi Oma yang kian memburuk serta keadaan Aditama yang mulai goyah. Hanya dengan cara ini yang bisa kita gunakan untuk melindungi semua.”
“ Kamu pikir aku percaya?! Pria busuk sepertimu bisa melakukan apapun yang kalian mau.”
“ Sialan Eka!” teriaknya membahana, memaki sang sepupu yang Adam sendiri yakin gadis itu sangat frustasi. Adam sudah membeberkan alasan yang sebenarnya. Alasan yang sebenarnya juga sangat sulit dia lakukan tapi harus terlebih lagi setelah dia berkonsultasi dengan Pak Athar Wiguna , Pengacara berusia senja yang mengenal seluk beluk Klan Aditama sejak lama.
“ Ya kamu benar. Aku memang gadis sialan. Dan mulai saat ini, aku sama sekali tidak membutuhkan bantuan kalian untuk mencari mamaku!” Eka sudah muak menunggu. Wajah cantik itu berubah dingin, menatap Adam penuh benci sebelum berlalu ke lantai atas.
Baiklah kini Adam sendiri kalang kabut dengan tingkah Aditama satu itu. Bahkan dengan santainya setelah pertengkaran keduanya tadi. Eka datang kembali dengan membawa koper kecilnya, melewati Adam seakan pria itu makhluk tak kasat mata.
“ Mau kemana Kamu?!” nada tajam itu keluar dari bibir Adam, menatap Eka.
“ Menurutmu? Bukankah sudah kukatakan, aku sudah tidak butuh bantuan dari kalian. Aku bisa mencari mamaku sendiri.”
“ Tapi tidak dengan cara seperti ini!” Adam tahu, seperti yang sudah- sudah pasti gadis itu akan pergi sama seperti kejadian 14 tahun yang lalu, menghilang sampai membuat semuanya gaduh.
“ Lalu apa yang harus kulakukan?! Aku tidak bisa disini terus dengan mengantung harapan tinggi supaya mama ditemukan?! Tapi mana sampai detik ini? Nihil.”
“ Eka..” Adam mendekat tapi dengan tegas gadis itu meminta Adam berhenti. “ Kembalilah ke kamarmu sekarang.”
“ Tidak!”
“ Eka!” kekeras kepalaan keduanya memang sudah mendarah daging sejak dulu. Dan dengan sigap Adam mencekal lengan gadis itu, menyeretnya kembali agar masuk kedalam rumah.
“ Tidak! Lepaskan Adam b******k!” teriaknya dengan memukuli Adam membabi buta.
“ Tidak akan pernah Eka, Sekarang masuk kedalam!”
“ Lepaskan aku b*****t!”
“ Tidak akan pernah, gadis keras kepala!” sentak Adam keras. Menatap tajam mata gadis satu itu. b******k sekali gadis satu ini. Kalau Amar mudah ditakhlukkan dengan uang dan gadis cantik beda halnya dengan Eka, gadis ini lebih ampuh apabila sudah dipukuli dan sekarat dirumah sakit. Tapi demi apun didunia ini, Adam tidak akan pernah memukul seorang perempuan, sejahat apapun itu.
“ Tidak!” bentaknya dengan cepat Eka membalikkan keadaan, membanting tubuh besar Adam dengan keras kelantai yang dingin sebelum gadis itu mencengkram erat kerah kaos pria itu. Ingat gadis Aditama itu bukan gadis biasa yang sangat lembek.
“ s**t!” maki Adam, menatap sang sepupu tajam. Harusnya tadi dia juga melakukan kekerasan pada gadis satu ini.
“ Mulai sekarang jangan pernah ikut campur urusanku ataupun mama lagi. Camkan itu!” ancamnya keras. Sebelum memukul wajah Adam dengan kepalan tangannya. Seulas senyum dingin terpatri di bibir gadis itu dan meninggalkan Adam yang terbaring di atas lantai.
“ Mas?” suara panik itu datang. Dengan sigap Kalina membantu Adam berdiri dan membawanya ke kamar mereka, mengobati wajah pria satu itu dari serangan sang sepupu.
“ Lalu bagaimana dengan Eka setelah ini? Apakah dia akan baik-baik saja?”
“ Tenanglah. Untuk kali ini, aku yakin Eka bukan gadis bodoh seperti 14 tahun yang lalu. Sudah kupastikan Keanu akan mengikuti gadis liar satu itu, kemanapun dia pergi.” Ucapnya setelah meletakkan ponselnya dinakas.
“ Semoga semua akan berakhir baik. Eka dan tante Maretha kembali ke rumah lagi.”
“ Itu harus!” Ucapnya yakin dengan mencium punggung tangan sang istri.
*
Bandung, kota ini seakan menuntunnya untuk datang kesana. Dengan perlahan Eka turun dari bus malam yang dia tumpangi dan menggeret koper kecilnya menuju pangkalan taksi terdekat dan berhenti di salah satu hotel yang berada disana.
Baiklah hanya malam ini saja, esok hari dia akan mencari tempat tinggal sederhana, ingat Eka sendiri sudah memutuskan untuk keluar dari lingkar Aditama.
Pagi datang lebih cepat dari perkiraan, kini Eka sudah siap cek out dari hotel dan mencari tempat tinggal baru. Berbekal uang seadanya gadis itu berkeliling kota Bandung, mencari rumah sederhana untuknya bernaung di kota sejuk ini. Sampai sore hari, seorang wanita paruh baya yang berhasil dia temui menyerahkan kunci rumah mungil yang kini dia tempati. Dan setelah semua barang dia keluarkan dari balik koper kecil itu, Eka menata beberapa buah foto diatas meja kecil disamping ranjang sempit nan keras itu.
Disana foto 15 tahun yang lalu, sebelum ular itu datang ke kehidupan indah Eka. Seulas senyum lebar terpampang di sana, Senyum cantik bak malaikat di mata Eka. Terlebih lagi wajah mamanya terlihat sangat cantik saat itu, wajah cantik yang bahkan kini menurun pada paras rupawan Eka Calista Aditama.
Ya darah Timur Tengah lebih mendominasi gadis itu daripada darah Jawa kental dari sang ayah.
Ayah?
Bukan. Pria itu sudah bukan Ayah yang baik lagi sejak ular itu masuk kedalam keluarganya, memporak- porandakan hidup keluarganya! Dan kalian tahu, pria itu membuang semuanya, bahkan mamanya untuk bersama wanita itu!
“ b*****t!” Eka sangat benci pria itu! Emosi kembali menguasai gadis itu kembali, dengan marah dia memecahkan figura yang berisi mereka bertiga dan merobek bagian foto sang Ayah sampai hancur lalu membuangnya, sama seperti pria itu membuang mamanya.
Ke tong sampah.