Sudah seminggu dan tabungan gadis satu itu sudah hampir menipis begitu juga dengan mentalnya yang mulai turun kembali. Dan selama seminggu ini gadis itu berkeliling kota Bandung, mencari tanpa tahu arah dan tujuan.
Tidak, Eka bukan gadis yang lemah. Dia harus punya rencana jangka panjang untuk kehidupannya nanti. Gadis itu membuka notebook usang miliknya dan mulai pencarian. Ia harus dapat pekerjaan secepatnya, ingat uangnnya menipis dan dia butuh makan serta uang transportasi untuk mencari mamanya.
Dengan semangat dia memasukkan resume kesalah satu perusahaan yang cukup menarik dengan benefit yang lumayan tapi langkah tangannya terhenti sejenak, menatap layar datar itu, haruskan dia mencantumkan Pendidikan terakhirnya..
Cukup lama tangan itu terhenti sampai sebuah pikiran menghentikannya.
Tidak. Memakai Pendidikan terakhirnya itu berarti mengakui dia salah satu Aditama.
Gadis itu segera menutup layar itu dengan keras. Otaknya mulai berputar cepat, dengan gesit dia berlari menuju ruang depan dan mengambil koran yang dia beli kemarin di pinggir jalan. Dengan telaten dia membuka lembar demi lembar halaman usang itu. Menandai bagian yang sekiranya bisa memberinya uang bermodalkan ijazah Sekolah menengahnya lalu mulai menulis tangan resume- nya itu setelah memastikan alamat yang tertera di iklan sama dengan alamat fisik perusahaan yang dia browsing di internet. Sialan dia tidak mau tertipu seperti yang dialami Kalina bodoh saat pertama kali datang ke kota orang.
Senin pagi datang dengan cepat, dengan semangat Eka merapikan penampilannya didepan cermin kecil yang menempel didinding, setelah memastikan semuanya rapi, Gadis itu segera keluar dari dalam rumah setelah ojol pesanannya datang.
Bandung memang tak semacet Jakarta, buktinya gadis itu sampai di tempat tujuan dengan cepat tanpa hambatan yang berarti. Gedung Nugraha itu berdiri megah dan terlihat paling menonjol diantara gedung- gedung yang lain, ya bisa dibilang sama megah dan sama besarnya dengan gedung Ritz.
Baiklah Eka tarik nafas dalam- dalam, ingat meskipun sudah pernah bekerja di Ritz tapi baru kali ini Eka berdebar- debar grogi, pasalnya baru kali ini dia masuk kerja tanpa adanya koneksi orang dalam. Baiklah Eka, lupakan sejenak yang lalu. Sekarang kamu harus konsentrasi untuk bisa bekerja di tempat ini. Gadis itu melangkahkan kakinya masuk kedalam lobby dan dengan itu pula dia langsung menjadi pusat perhatian karena wajah yang tidak biasanya itu. Bahkan banyak yang terang- terangan menatapnya lama diserai senyuman genit. Dalam hati gadis itu terus mengutuk, Dia lupa bahwa ini bukan Ritz yang sebagian karyawannnya perempuan.
Baiklah abaikan saja mereka anggap mereka lalat pengganggu!
Dan aba- aba dari seorang Supervisor terdengar dengan keras, memerintahkan para pelamar baru untuk masuk ruang tes. Eka menarik nafas panjang sebelum bergabung dengan kerumunan itu dan masuk kedalam ruangan yang dimaksud.
Kertas tes dibagikan, Eka dengan seringainya menatap kertas ujian itu. Setidaknya tes ini tidak ubahnya dengan soal anak SMP. Dan IQ Eka yang memang diatas rata- rata mampu mengerjakan hampir 50 soal yang diberikan hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Mereka yang lulus tes tulis langsung diumumkan hari itu juga dan berhak untuk mengikuti Psikotest. Satu persatu peserta yang lolos dipanggil kedalam ruangan tes. Entah Psikotest macam apa yang akan dijalani pasalnya beberapa orang yang keluar dari ruangan itu langsung menunduk lesu setelahnnya.
“ Eka Calista.” Namanya dipanggil dan gadis itu langsung masuk ruangan, berhadapan langsung dengan 3 orang penguji langsung, sepertinya dua dari mereka adalah orang produksi jika melihat dari seragam yang mereka kenakan.
“ Eka Calista?” sapa seorang pria paruh baya tersenyum menatapnya.
“ Iya, saya Eka Calista.” Tak ada senyum dalam bibir itu hanya tatapan tajam nan dingin, membuat pria paruh baya itu berdehem keras salah tingkah sendiri.
“ Baiklah kita mulai saja wawancara kita.” Ucap seorang wanita yang Eka pikir seorang lelaki karena rambut serta wajahnya yang maskulin itu. Baiklah hanya wawancara basa- basi yang Eka dengar serta jawab dengan cepat.
“ Kalau anda diterima di perusahaan ini, bagian mana yang anda ingin masuki?”
“ Saya akan memilih QC.”
“ Alasannya?”
“ QC adalah penyaring. Merekalah yang memastikan suatu produk diproduksi layak eksport atau tidak. Jadi bisa dipastikan QC adalah kunci jalannya eksport. Kualitas perusahaan tergantung dari para QC mereka yang kuat dalam memegang kualitas.”
“ Sepertinya anda tahu banyak tentang pekerjaan Anda. Dan itu bagus.”
“ Lalu bagaimana menurut anda saat line yang sedang anda kerjakan mengalami masalah bongkar packing karena kecerobohan QC sedangkan anda anak QC sendiri yang mengerjakan produk tersebut merasa tidak melakukan human error?” tanya wanita berperawakan pria itu.
“ Human error pasti terjadi meskipun hanya 0,1%. Dan semua anak QC yang mengerjakan produk tersebut wajib melakukan cheking ulang meskipun hari itu harus eksport, termasuk saya.” Ucap Eka tegas.
“ Jawaban yang bagus.” Wanita itu tersenyum.
“ Ah satu pertanyaan lagi, sepertinya saya pernah melihat anda disuatu tempat?” pria paruh baya itu menatap lama pada Eka.
“ Saya rasa wajah saya terlalu pasaran sampai anda merasa seperti itu.”
“ Maksud pria tua ini, Anda sangat cantik untuk ukuran anak produksi. Kenapa tidak mencoba melamar dibidang lain mungkin.” Ucap wanita yang lain.
“ Pendidikan saya tidak sampai sejauh itu untuk melamar pekerjaan dibidang lain.”
“ Baiklah cukup sekian wawancara kita ini. Kabar selanjutnya bisa anda lihat di halam resmi website perusahaan kami dua hari kedepan.” Pria paruh baya itu mengakhiri wawancara singkat mereka dan mempersilahkan gadis itu pergi.
“ Terima kasih.” Ucapnya sebelum pergi.
“ Sialan cantik sekali tapi aura yang dia keluarkan jauh lebih seram dari Tuan Bumi, lihat bahkan aku sendiri sempat segan memberinya pertanyaan.” Ucap wanita berwajah maskulin itu.
“ Iya tapi kupikir dia seorang model yang tersesat. Sayang sekali, padahal dengan wajah dan tubuh seperti itu dia bisa saja dapat posisi dan uang yang banyak.” Ucap Pak Gandhi dengan mengetuk- ketukkan tangannya diatas meja, terlebih lagi tangannya memegang hasil tes tertulis gadis itu yang sempurna.
“ Ya bisa saja.” Jawab wanita yang lain.
Sedangkan Eka, gadis itu keluar dari ruangan itu tanpa ekspresi membuat peserta setelahnya bertanya- tanya dan Eka tidak peduli dengan hal itu karena sekarang perutnya lapar, dia butuh makan karena perutnya sama sekali belum diisi apapun sejak pagi.
Sedangkan disisi lain, Bumi berjalan dengan tegas diikuti oleh Bayu, sekretaris barunya yang ternyata sangat andal, untuk kali ini dia harus berterima kasih pada Gandhi karena memberikannya manusia yang kompeten.
“ Pastikan semua perekrutan karyawan baru selesai hari ini!” perintahnya sebelum memasuki ruangan.
“ Tuan ada masalah penting.” Bayu membuka pintu tanpa permisi, menatap pria yang sedang melakukan Telekonferensi dengan anak cabang yang ada didaerah Semarang itu langsung menghentikan kegiatannya. Menatap pria yang lebih muda darinya itu dengan tajam.
“ Katakan!”
“ Pihak Korea, ASCO.sport, mengkonfirmasi bahwa quantity barang yang datang hari ini tidak sesuai dengan PO mereka.” Ucapnya dengan takut.
“ Tidak sesuai bagaimana?!” Bukankah pihak packing dan beberapa Supervisor selalu memastikan Quantity di PO sebelum memastikan barang itu dimasukkan kedalam Container?! Baiklah Bumi dengan segala tempramentnya itu sangat suka kesempurnaan. Dan apa yang terjadi kali ini, sangatlah fatal.
“ PO yang dicantumkan sebanyak 1250 pcs dengan margin produksi 125 pcs tetapi barang yang sampai di Korea hanya 1025 pcs dengan margin produksi 100 pcs.” Ucapnya.
“ Kumpulkan semua bagian sekarang!”
“ Baik Tuan.” Bayu langsung pergi sebelum menjadi sasaran tunggal amukan sang atasan satu ini.
Kasak- kusuk terdengar di ruang meeting itu pasalnya mereka dikumpulkan dengan alasan Jumlah Quantity PO yang tidak sesuai. Sangat membingungkan sebenarnya disaat mereka benar- benar bekerja dengan baik dengan melakukan Stock opname perbagian dan mereka memastikan sendiri jumlahnya sesuai PO.
“ Saya harap kalian tahu alasan Kalian dikumpulkan diruangan ini.” Tanpa basa- basi Bumi menatap tajam para Supervisor, manager produksi serta kepala bagian packing yang sangat berperan dalam hal ini.
“ Maaf Tuan Bumi, saya mewakili seluruh Supervisor disini telah memastikan barang yang kami kirim sudah sesuai dengan PO. Akan sangat aneh rasanya disaat hampir semua kepala bagian sudah melakukan stock opname berkali- kali tapi masih ada kejadian seperti ini.” Jawab Manager Produksi dengan yakin.
“ Kalian tahu apa itu human error?!” bentaknya keras, menunjuk Manager produksi dengan tangan kirinya. “ Dan kalian semua tidak bisa mengelak adanya Human Error disini!”
Tak ada yang berani menjawab, semua tertunduk.
“ Maaf Tuan Bumi. Kami sudah memastikan semuanya sesuai dengan PO serta SOP dan kami yakin ini bukan kesalahan kami. Ini data- data produk sebelum barang masuk kedalam Container.” Kepala bagian Packing dengan cepat menyerahkan data- datanya.
Alis Bumi menyerngit dalam tatkala melihat data- data itu.
“ Human Error memang sudah pasti tapi kami sudah memastikan hal itu disetiap eksport dengan cara Stock opname paralel dimana barang yang sudah di stock opname akan distock opname ulang oleh dua sampai tiga orang Supervisor dan masalah seperti ini tidak pernah terjadi selama hampir berpuluh- puluh tahun. Lagipula sangat aneh, mana mungkin kami teledor sampai separah itu, kalau 5- 10 pcs mungkin itu wajar tapi ini ratusan pcs. Tuan.”
Bumi berpikir dengan cepat kemudian membubarkan mereka untuk kembali ke tempat kerja masing- masing.
Sialan ada tikus dalam perusahaannya dan Bumi merasa hewan pengerat itu sangat dekat dengannya.