Ice Queen
Sekali lagi, Rere menjatuhkan stock yang dia dapat dari line pilot, dengan panik gadis itu memunguti sepatu- sepatu itu setelah lirikan tajam dari Supervisor produksi mengarah padanya lalu membawanya ke meja QC-nya. Ingat Rere, masih bisa bekerja di Wrap.co berkat kesempatan yang diberikan Pak Gandhi padanya. Maka dari itu Rere harus memanfaatkannya dengan sebaik- baiknya.
Dan mata bulatnya itu bertatap mata dengan mata gadis abu- abu yang baru masuk hari ini. Dengan segan gadis itu menundukkan wajahnya dan mulai pekerjaannya kembali. Baiklah gadis satu itu terlihat menyeramkan sama seperti Tuan Bumi.
Jam makan siang berbunyi nyaring, dengan teratur karyawan produksi keluar. Kantin penuh sesak dengan anak produksi dari dua gedung yang beristirahat menjadi satu.
“ Harusnya istirahat mereka dibagi menjadi dua shift.” Pikir Eka dibalik masker yang menutupi wajahnya. Setelah lama antri, gadis itu mengambil jatah makan siangnya dan berjalan menuju satu- satunya tempat kosong yang ada diujung kantin, bisa dibilang cukup jauh dari pintu masuk.Dengan tenang gadis itu menyantap makan siangnya saat sebuah suara mengintrupsinya.
“ Bisakah aku duduk disini?” gadis itu tersenyum lebar dengan mata hampir menyipit. Baiklah gadis ini yang satu meja kerja dengannya. Hanya anggukan yang Eka lakukan dan gadis itu langsung duduk didepannya.
“ Hai aku Rere!” sapanya semangat dengan mengulurkan tangannya yang kemudian dia tarik kembali karena tidak tersambut.
“ Ya aku Rere.” Cengirnya salah tingkah menyebutkan namanya sekali lagi. Keduanya makan dengan tenang meskipun terdengar kasak- kusuk yang membicarakan keduanya. Ah tidak lebih tepatnya Eka. Dan Eka sama sekali tidak peduli itu. Setelah makan siangnya habis, Eka langsung berdiri dari duduknya dan langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan pada gadis yang ada didepannya itu. Rere yang melihat hal itu hanya melongo.
“ Benar- benar luar biasa. Ice Queen.” Bisiknya pada diri sendiri.
Eka mengabaikan setiap mata yang menatapnya intense dengan cepat dia memasukkan ponselnya ke dalam loker dan masuk ke dalam gedung produksi. Gadis itu duduk seorang diri dimeja kerjanya dengan tangan memegang sepatu Stock QC Line mereka. Dengan cermat dia mempelajari ulang apa yang diajarkan oleh kepala QC padanya tadi.
Sangat mudah sama seperti QC garment pada dasarnya.
Bel jam kedua berbunyi dan karyawan sudah mulai masuk dan hari melelahkan kembali dimulai. Teriakan demi teriakan kembali terdengar digendang telinga Eka tatkala beberapa orang dari bagian produksi melakukan kesalahan. Beberapa jenis hewan yang ada dikebun binatang terdengar dari beberapa mulut Supervisor Line dan itu sangat mengganggu Eka.
Sialan, selama berada di Ritz, Eka sama sekali belum pernah mendengar hal semacam ini lagipula mana rasa manusia mereka saat hal seperti itu diucapkan dengan lantang!
“ Jangan kaget. Disini memang seperti itu, karena tekanan keras dan makian yang sering diterima dari Tuan Bumi yang membuat para Supervisor seperti itu.” Bisiknya.
Baiklah Eka cukup paham disini. Dimana- mana seorang pemimpin pasti berpengaruh besar dalam membentuk mental dan watak anak buahnya. Dan sepertinya CEO mereka ini orang yang sangat kasar dan temprament tinggi.
“ Hey yang disana, kita sedang bekerja. Kalau kamu punya waktu untuk bergosip lakukan saja didepan kami anak bawang!” Dan meja kerja mereka menjadi sasaran.
“ b******k!” maki Eka pelan, sungguh hari pertama yang sedikit menguras emosi bayangkan Eka disamakan dengan anak bawang! Sialan, ingatkan dia untuk menghajar mulut supervisor yang entah siapa namanya itu! Jam berdentang tepat pukul lima, Eka langsung melepas atribut QC- nya saat Rere, gadis yang satu meja dengannya itu melarangnya.
“ Ini sudah waktunya pulang.” Jawabnya santai dengan meletakkan atributnya di tempat alat.
“ Belum waktunya.”
“ Apa kamu tidak punya telinga? Bel pulang sudah berbunyi.”
“ Tapi kita tidak boleh pulang dulu. Output dari Line kurang dari target harian jadi otomatis anak QC belum bisa pulang sebelum target terpenuhi.” Ucap Rere meringis.
“ Apa katamu? Jadi kita di- Skors?!” mata dingin itu melotot tidak percaya. Sialan sejak kapan ada peraturan seperti ini?! Setahunya sebelum produk itu berjalan di produksi, pihak IE, Kepala produksi serta Supervisor akan menghitung target disesuaikan dengan jenis produksi serta tingkat kesulitan barang kemudian akan ditentukan target perjamnya.
Lalu ini, apa sebelumnya ada manipulasi target sehingga kejadian ini terus berlarut?!
“ Singkat kata kita molor jam pulang saja.”
“ Sialan!” maki Eka pelan. Dengan berat hati gadis itu memakai kembali alat QC- nya dan bekerja kembali. Pada akhirnya mereka pulang setelah lewat pukul 18.00, baiklah amal kerja 1 jam dan itu lumayan juga. Bayangkan jika di Ritz itu dihitung lembur!
“ Hai, Kamu pulang bersama siapa?” Rere bagaikan lalat selalu beredar disekelilingnya. Dan Eka tidak suka hal itu. Dia tidak suka berhubungan dengan orang asing sejak saat itu.
“ Hai aku sedang bertanya?” kejar Rere saat Eka melewatinya bergitu saja.
“ Aku menawarkan tumpangan. Asal tahu saja, ini Kawasan Perusahaan dan jam segini akan sangat susah mencari ojol, kalau mau jalan kaki kedepan itu sangat jauh.”
Eka berhenti dan menatap wajah gadis yang selalu tersenyum bodoh itu.
“ Mana motormu?”
“ Tunggu sebentar disini!” Rere langsung berlari kearah parkiran lalu kembali dengan membawa motor maticnya. “ Ayo naik!” ucapnya dengan menepuk jok belakang motornya. Tanpa diminta dua kali, Eka langsung naik motor itu dan keduanya menembus lalu lalang motor yang masih beredar dikawasan tersebut.
“ Sampai!” Rere berteriak dibalik Helmnya dan menunggu Eka untuk turun dari motornya.
“ Gelap sekali rumahmu? Kamu tinggal sendiri ya?” gadis itu melongok sekitaran rumah Eka yang memang gelap. Tak ada jawaban dan sekali lagi Rere hanya bicara dengan Ice Queen yang menganggapnya orang aneh yang suka berbicara tanpa henti.
“ Baiklah, aku pulang dulu.Bye!” Rere melambaikan tangannya sebelum pergi.
Setelah selesai mandi dan mengisi perutnya dengan makanan yang dia beli didepan. Eka berbaring dengan nyalang diatas ranjangnya yang keras pasalnya tubuhnya lelah sekali dan pegal.
Kemudian diraihnya foto yang dimeja kecil disebelah ranjangnya itu.
“ Mama, semoga setelah ini, Kita kan bertemu kembali. Tunggu aku.” Senyumnya sebelum mencium foto itu dan mendekapnya erat. Seerat Mamanya memeluknnya saat dia masih kecil dulu.
*
Pesawat itu berhasil mendarat dengan mulus di bandara Internasional Incheon. Bumi serta sang Sekretaris disambut oleh perwakilan dari Korea dan langsung mengantarkan keduanya ke hotel terdekat sebelum besok harinya dia menuju ASCO.sport, nama produsen sepatu yang bekerjasama dengan mereka. Mr. Kim, selaku wakil Direksi menemuinya kali ini dengan tegas dia meminta barang mereka sesuai dengan PO.
Sialan, tidakkah orang tua ini mengerti bahwa barang yang mereka pinta itu dicuri oleh sekawanan tikus menjijikkan maka dari itu Bumi datang ke perusahaan mereka sekarang?!
Pada akhirnya Bumi berhasil meyakinkan customer mereka yang berasal dari Korea itu meskipun dengan sangat alot. Dan sialnya dia juga harus mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk mengganti biaya kerugian ASCO.sport. Sialan, Bumi tidak akan memberi ampun pada tikus- tikus menjijikkan itu!
Dan kini setelah kembali lagi ke tanah air setelah menghabiskan dua malam disana, Bumi ingin sejenak menghibur diri. Mungkin pergi ke Club dan sedikit mengencani seorang wanita malam ini tidak akan jadi soal.
“ Baiklah Tuan Bumi yang sebentar lagi akan terikat bersama seorang wanita sepertinya kamu sudah mulai nakal sekarang.” Ejek Dani pria yang kini menegak cairan pekatnya itu.
“ Tutup mulut besarmu itu Dani. Atau kamu mau malam ini menghabiskan malam bersama dengan orang itu.” Seringainya dengan menunjuk seorang waria yang menatap keduanya dengan genit sejak tadi.
Huek!
“ b*****t, kalau kamu berani melakukan hal itu. Kupastikan kamu juga akan berakhir sama denganku!” ancamnya.
“ Oh ya?” dan seringai mengerikan itu timbul kembali. Dani yang menatapnyapun langsung terdiam. Dia tahu pria seperti Bumi ini tidak pernah basa- basi dengan ucapannya.
Sungguh Bumi dan segala hal yang ada padanya itu, Mengerikan!