Jeff terpaksa menerima Nayra menjadi sekretarisnya kembali karena ia memang membutuhkan seorang sekretaris yang ia sadari sangat sulit untuk mencari seseorang yang sangat kompeten dengan pekerjaanya, ia juga telah mendapatkan saran dari daddy-nya untuk tidak melepas Nayra yang sangat berprestasi.
Ini benar-benar hal yang membuat Jeff kesulitan untuk mengambil keputusan, apa yang di katakan Carlos pasti selalu benar, Jeff tidak bisa mengambil keputusan dan memecat Nayra hanya karena kejadian tiga tahun lalu permasalahan yang sebenarnya sudah Jeff lupakan bahkan ia tidak mengingatnya sama sekali.
Setidaknya Jeff masih bisa menutup rasa malu dan menjaga image-nya dengan tidak meminta wanita itu kembali ke perusahaan, karena dengan sendirinya wanita itu lah yang masih ingin bertahan di HRN Group.
Siapa yang tidak menginginkan bekerja disini, pasti Nayra pun tidak ingin melepaskan pekerjaan yang sangat di impikan setiap orang.
Jeff menatap kearah meja di mana wanita itu tadi sempat memberikannya sebuah paperbag yang ia letakkan di atas meja, rupanya di dalamnya berisikan kotkak makanan yang berisikan beef dengan potongan kentang, aroma dari beef tersebut benar-benar langsung menggugah selera Jeff.
Bagaimana tidak, beef merupakan makanan favorit Jeff semenjak ia kecil hingga saat ini. Tak hanya kotak makanan saja, di dalamnya juga terdapat sebuah surat yang langsung Jeff baca.
Hanya makanan ini saja yang bisa aku berikan sebagai tanda maafku, semoga kau menyukainya..
Jeff meletakkan sejenak kertas tersebut keatas meja kerjanya kemudian mulai mencicipi makanan pemberian dari sekretarisnya itu, rupanya rasanya tidak buruk bahkan terasa sangat pas di lidahnya.
Mungkinkah wanita itu mencari tahu mengenai makanan yang di sukainya untuk menarik permintaan maaf darinya? Tidak ada yang mengetahui menu makanan favoritnya selain keluarganya, Jeff tidak boleh menuduh wanita itu kembali.
Jeff memilih untuk meneruskan kembali makanan pemberian dari Nayra ini.
***
Nayra duduk di atas kursinya sembari menggerakannya ke kanan dan juga ke kiri. Ia beruntung Jeff bisa Nayra kendalikan hanya dengan modal wajah memelasnya.
“Maaf?”
“Kau yang bersalah di sini Jeff, kenapa harus aku yang meminta maaf? Maafku hanya untuk membuatmu tidak memecatku.”
Nayra menegakkan tubuhnya sembari menarik kursinya mendekat ke mejanya, ia juga meletakkan kartu pass miliknya ke atas meja.
Ia mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya membuat Jeffrey mencintainya.
Sebuah rencana pun langsung Nayra dapatkan, sepertinya langkahnya untuk menjadikan Jeffrey sebagai kekasih merupakan keputusan yang tepat untuk Nayra.
Nayra tersenyum dengan sumringah, di saat ia tengah bahagia memikirkan rencananya, ponselnya justru malah mendapatkan sebuah panggilan masuk dari Daddynya.
Nayra menghela nafasnya kasar saat Daddynya mengganggu dirinya saat ini, dengan terpaksa Nayra mengangkat ponsel.
“Kedua orangtua Zion ingin bertemu denganmu Nayra.”
“Untuk apa? Untuk apa menemui Nayra? Aku tidak mau.” Tolak Nayra mentah-mentah.
“Mereka ingin melihat calon menantunya, sebelum menentukan tanggal pernikahan antara kau dengan Zion.”
“Nayra tidak mau, Nayra sibuk.”
“Sibuk apa? Bekerja untuk musuh calon suamimu?”
“Calon suami? Memangnya Nayra sudah menyetujui akan menikah dengan pria manja sepertinya?”
“Jangan berbicara buruk mengenai Zion Nayra! Ia calon suamimu.”
“Nayra tanya pada Daddy, memangnya Daddy ingin seumur hidup bersama dengan orang yang sangat manja dan tidak mandiri sepertinya?”
“Pria Manja, yang ia tahu keinginannya harus terpenuhi, memangnya ia siapa yang keinginannya bisa terpenuhi tanpa memikirkan orang lain?”
“Jangan sembarangan berbicara, bagaimana pun permintaan Zion tidak sebanding dengan keluarganya yang mau membantu perusahaan kita.”
“Nayra menolak dan tidak ingin bertemu dengan mereka.”
“Tidak bisa, kedua orang tua Zion menginginkan untuk bertemu denganmu.”
“Mereka rekan Daddy kan?”
“Kau tahu itu, maka dari itu kau jangan mengecewakan mereka.”
“Kalau begitu Daddy saja yang menemui mereka.”
Nayra tahu ini sangat tidak sopan, ia memilih untuk mematikan telepon dari daddy-nya sebelum daddy-nya itu kembali memaksakan apa yang tidak ia inginkan.
Melanjutkan pekerjaannya jauh lebih baik daripada ia harus memikirkan permintaan daddy-nya yang sangat tidak masuk akal.
***
Nayra terus mematikan ponselnya ketika daddy-nya meneleponnya terus menerus, yang lebih membuat Nayra tak percaya adalah ketika Daddynya ingin berbuat nekat menghampirinya di perusahaan HRN Group dan meluapkan amarahnya disini.
Apa yang harus Nayra lakukan, walaupun nantinya pun Nayra menemui kedua orangtua Zion pria itu tidak akan ada di sana tapi bukankah itu sama saja seperti ia menyetujui pernikahan tersebut bila memunculkan batang hidungnya di hadapan mereka.
Yang harus Nayra lakukan adalah segera pergi dari kantor sebelum ancaman ayah nya benar-benar ia lakukan.
Namun sepertinya ancaman dari ayah nya benar-benar ia lakukan, Nayra seketika tak berkutik ketika ia melihat mobil ayah nya ada didepan pintu masuk perusahaan.
Sehebat apa keluarga Zion hingga membuat ayah-nya menjadi begitu tunduk pada mereka, membuat Nayra semakin membenci keluarga Foster.
Nayra melangkah mundur, membatalkan niatnya untuk keluar dari perusahaan, tapi bagaimana bila daddy nya menerobos masuk dan membuat kekacauan? Tapi sepertinya tidak mungkin, hanya seperti ini tidak mungkin membuat daddy nya justru malah membuat malu dirinya.
Saat Nayra melangkah mundur ia justru malah menabrak tubuh seseorang yang bisa ia rasakan tubuhnya itu jauh lebih besar daripada Nayra.
Ternyata tubuh yang tidak sengaja ia tabrak adalah tubuh Jeff, pria itu ada di belakang Nayra dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
Jeff menatap Nayra dengan gelagat aneh, kenapa ia terlihat seperti menghindari sesuatu?
“Tuan Jeff.”
“Maaf, apa aku membuatmu terluka?” Nayra tanpa sadar meraba tubuh Jeff, membuat sang pemilik tubuh bergidik merinding dengan sentuhan-sentuhan di tubuhnya.
Jeff menahan tangan Nayra agar berhenti agar tidak meraba tubuhnya lagi. “Cukup, saya baik-baik saja.”
Nayra menarik tangannya ketika ia menyadari dirinya baru saja meraba tubuh Jeff, ia bisa melihat wajah pria itu yang langsung memerah.
Hanya seperti itu ia tergoda? Batin Nayra.
Mungkinkah pria itu akan lebih mudah ia goda hanya dengan sentuhan-sentuhan di tubuhnya?
Stop Nayra, lupakan itu dulu, kau harus segera pergi dari sini! Nayra kembali ke tujuan awalnya untuk segera pergi dari perusahaan.
“M-maaf, aku harus segera pergi dari sini.”
Nayra memilih pergi dan menuju pintu belakang, jangan sampai daddy-nya menemui dirinya.
Jeff hanya memandang Nayra Aneh.
***
Nayra merebahkan tubuhnya di atas ranjang ketika ia sampai di rumah, akhirnya ia bisa lebih dulu sampai rumah dan menghindari daddy nya, ia berharap ketika daddy nya itu sampai rumah ia tidak mengetahui keberadaannya di dalam kamar.
Ketukan yang tidak Nayra harapkan pun terjadi, ia sudah bisa menduga pasti daddy nya lah yang mengetuk pintu kamarnya, tapi Nayra sudah mengantisipasinya dengan mengunci pintu kamarnya dan menghadang pintunya itu dengan lemari kecilnya jadi sudah bisa Nayra pastikan daddy nya tidak akan bisa menerobos masuk ke dalam
Nayra menatap pintu kamarnya dengan menghela nafasnya “Resikomu Daddy, menjodohkanku tanpa persetujuan dariku lebih dulu! Kalau mereka marah, aku tidak bertanggung jawab akan hal itu.”