“Bagus, kau membuat Daddy malu di depan calon mertuamu.”
Nayra menghentikan langkahnya saat usahanya untuk mengendap-endap keluar dari rumah justru malah gagal ketika ia di pergoki oleh Peter yang rupanya masih berada di rumah.
“Kau membuat mereka kecewa Nayra.”
“Daddy memintamu untuk menemui mereka tapi kenapa kau menjadi pembangkang seperti ini? Ingin melihat perusahaan Daddy hancur?”
“Stop menyakutpautkan Nayra dengan perusahaan! Nayra ingin hidup tanpa di atur lagi Daddy.”
“Hanya kau harapan satu-satunya Daddy untuk membalas kebaikan keluarga Foster.”
“Lalu Daddy ingin Nayra tidak bahagia dengan menyetujui untuk menikah dengan si pria manja itu?”
“Zion tidak manja, ia mendapatkan kasih sayang lebih yang membuatnya bersikap seperti itu.”
Nayra mendecak, “Bukan tipe Nayra, tipe Nayra seperti putra dari Harrison Group.”
Peter membulatkan matanya dengan perkataan putrinya. “Jangan macam-macam Nayra!”
“Nayra benar, pria gagah dan mandiri yang Nayra sukai bukan sepertinya yang hanya mengandalkan Bodyguard nya untuk segala kebutuhannya.”
Sedang di bicarakan pria itu kini meneleponnya.
“Lihat, si manja menelepon Nayra, pasti ingin mendapatkan perhatian lebih dariku.”
Nayra hanya ingin membuat Daddy-nya percaya bahwa pria pilihannya itu membuatnya merinding.
“Nayra, sayang, kenapa kemarin tidak mengangkat teleponku, kau tahu kan aku merindukanmu, kita sekarang ada di negara yang berbeda jadi aku menginginkan kabar.”
“Di sini sangat dingin, beruntung Mommy ku menyediakan jaket yang super tebal untuk ku kenakan.”
“Kau ingin melihat jaket tebal milikku? Aku akan menyalakan—” Tut!
Nayra memutuskan panggilan dari Zion.
“Lihat Dad, sebenarnya yang usianya muda disini Nayra atau dirinya? Memangnya ia fikir berbicara dengan Nayra dengan nada seperti itu ia pikir menggemaskan? Nayra muak Dad!”
“Lambat laun Zion akan bersikap dewasa.” Peter masih membela Zion agar tidak terlihat buruk di mata Nayra bila ia sebenarnya menyetujui perkataan putrinya.
“Lambat laun? Sampai ia menjadi kakek-kakek berambut putih? Atau sampai tubuhnya membungkuk karena di makan usia?”
“Percaya pada Daddy..”
Nayra memutar bola matanya jengah dengan omong kosong Daddy-nya. “Nayra harus bekerja di perusahaan calon menantu Daddy yang sebenarnya.”
“Nayra.” Panggil Peter saat putrinya justru malah memilih untuk meninggalkanya dan tidak mempedulikan semua perkataannya mengenai Zion.
***
Nayra membuka pintu ruangan Jeff saat ia berinisiatif sendiri untuk memberi jadwal Pria itu mulai dari meeting di kantor, pertemuan di luar perusahaan dan banyak lagi janji temu yang telah ia buat dengan para kliennya, semua sudah di atur oleh Nayra.
Jeff mendongakan wajahnya ketika tau yang masuk kedalam ruangannya adalah Nayra dengan map yang berada dalam genggamannya.
“Ya.” Ucap Jeff dengan pandangan yang kembali ia fokuskan kepada layar komputernya.
“Ini berkas yang kau inginkan.”
“Jadwal meeting mu untuk beberapa Minggu ke depan.”
Jeff hanya menganggukan kepalanya dan menunjukkan dimana Nayra harus meletakkan berkas itu.
Nayra mengikuti arah yang di tunjuk Jeff untuk meletakkan berkas tersebut, Nayra belum ingin pergi dari sini, setiape ia berhadapan dengan Jeff ia harus memiliki kesempatan untuk menjerat pria itu agar mencintainya.
“Jam sepuluh nanti anda memiliki jadwal pertemuan dengan klien.”
“Kau sudah mengaturnya?” Tanya Jeff tanpa melirik kearah Naya.
“Sudah Sir.”
“Bagus, kalau begitu aku akan menghadiri pertemuan itu.”
Nayra masih berdiri di tempatnya, bukankah sepuluh menit lagi mereka akan berangkat? Jadi ia akan tetap berada disini menunggu Jeff menyelesaikan pekerjaanya yang ada di dalam komputer.
Jeff yang merasa masih ada seseorang disini ia memilih menaikkan pandangannya, rupanya sekretarisnya itu masih berada dalam ruangannya.
“Ada lagi?”
Nayra menggelengkan kepalanya. “sepuluh menit lagi kita berangkat menemui klienmu, apa aku boleh tetap berada di—”
“Hanya aku dan klien sajakan?”
“Saat aku di Perancis, sekretarisku hanya menjadwalkan pertemuan sisanya aku yang menyelesaikan tanpa bantuan siapapun lagi.”
Nayra menatap Jeff, “Tidak bisa, itu akan sangat merepotkan bila kau datang seorang diri.”
Kenapa Sekretarisnya ini terlihat sangat mencurigakan?
“Mungkin di sini dengan di Perancis sangat berbeda, seperti pertemuan yang dilakukan Mr. Carlos ia sangat membutuhkan bantuanku.”
Nayra tahu Jeff pasti menganggapnya aneh, tapi bila pria itu pergi sendiri bukankah rencananya untuk mendekatinya akan gagal dan akan mengulur waktu yang begitu lama?
“Semua terserah padamu Sir, berkas perjanjian dan beberapa dokumen akan aku berikan padamu untuk di serahkan pada klien.”
“Sebentar akan aku ambilkan—”
“Kau boleh ikut.” Putus Jeff saat ia merasa keputusannya untuk pergi sendiri terlalu menyulitkan baginya.
Nayra menarik sudut bibirnya saat ia berhasil membuat Jeff memperbolehkan dirinya untuk ikut dengannya.
“Persiapkan semua berkas, lalu kita berangkat.”
Tanpa perintah pun Nayra akan melakukan apa yang di perintahkan Jeff.
***
Wangi yang begitu harum memenuhi mobil Jeff ketika pintu mobil telah tertutup dengan rapat.
Tatapan mata Jeff langsung tertuju kearah Nayra yang berada di sampingnya menggunakan dress yang panjangnya hanya diatas lututnya, paha mulus nan putih pun kini bisa Jeff lihat.
Wangi yang berasal dari Nayra dengan pakaian seminim itu ia tidak berniat untuk menggodanya kan?
Nayra sendiri tidak berniat menggoda Jeff dengan pakaiannya, ia hanya menggoda pria itu menggunakan wangi dari parfum yang sengaja ia gunakan.
Jeff tidak ingin memikirkan hal lain dan memilih untuk menjalankan mobilnya.
Suasana mobil pun seketika terasa hening, terutama Jeff yang memang tidak ingin menanyakan apapun pada wanita itu.
“Jadi, selama di Perancis, kau melakukan pertemuan hanya seorang diri?”
Jeff menoleh ke arah Nayra sekilas saat wanita itu bertanya padanya.
“Sebenarnya sekretarisku di Perancis pun sama ingin ikut denganku selama pertemuan, tapi karena aku menolak jadi ia hanya menurut.”
“Apa kau menyesal mengajakku?”
“Tidak, ini hanya terasa aneh bagiku, mungkin aku akan terbiasa.”
“Kejadian terakhir tiga tahun yang lalu, apa kau juga habis melakukan pertemuan dengan klienmu?”
Jeff menganggukan kepalanya.
“Kau sudah tahu takut akan penguntit tapi kenapa tidak meminta sekretaris mu untuk ikut denganmu?”
“Maksudku, Bukankah itu sedikit lebih aman bagimu bila ada yang membantumu bila hal seperti itu terjadi padamu?”
“Aku melakukannya, tapi tidak setiap saat.”
“Kenapa memangnya?”
“Merepotkan sekretarisku.”
“Tapi bukankah itu tugasnya?”
“Ya, tapi bagiku membantuku untuk masalah di kantor sudah cukup bagiku.”
Nayra menyentuh lengan Jeff. “Kau jangan ragu untuk memintaku menemanimu ya, aku tidak ingin pekerjaanku menjadi sia-sia.”
“Ya? Jawab aku.”
“Lepaskan, aku sedang menyetir.” Ucap Jeff saaat ia mulai merasa tidak nyaman dengan pergerakan Nayra yang semakin mendekat ke arahnya.
Ia merasa mendekatnya Nayra kearahnya itu akan snagat membahayakan bagi tubuhnya yang berada di bawah sana.
Nayra melepaskan genggamannya pada lengan Jeff, dan terkekeh pelan.
Kau pasti tergoda dengan wangiku Jeff. Batin Nayra seolah tahu ketika pria itu tiba-tiba menjadi gelisah seperti saat ini.
“Lokasi pertemuan sudah kau buat privasikan?”
“Tentu Sir.. Tidak akan ada yang mengganggu atau menciptakan kebisingan.”
Kebisingan yang mungkin akan mengganggu mereka berdua nanti.