Anik menatap hampa tangan besar Seno yang dia pegang, lalu mengeratkan genggamannya, sikap Anik membuat Seno merasa tenang dan senang, hingga melupakan perbuatan istrinya yang sedang bersenang-senang dengan laki-laki lain. “Kenapa Bapak bertanya seperti itu?” Anik balik bertanya dan Seno yang tidak menduga. Seno membalas genggaman tangan Anik, menatap Anik. “Hanya bertanya, dia sahabat saya … dan kamu adalah istrinya.” “Ya, pak Ronan pernah menyinggung soal siapa yang menemani saya, dia mengkhawatirkannya tapi saya bilang kepadanya nggak perlu memikirkannya. Saya agak marah, lalu dia tidak pernah lagi menyinggung soal itu." “Oh, begitu.” Artinya Anik tidak mengetahui wasiat Ronan kepadanya. Seno mengangguk kecil, menyadari pernyataan Ronan tentang Anik bukanlah wasiat, hanya obrolan b

