Anna akhirnya mampu mengatur emosinya yang berlebihan setelah tahu keadaan perusahaan suaminya akhir-akhir ini yang sedang mengalami penurunan. Dia pun mampu menguasai diri saat melepas kepergian Seno pagi itu ke bandara menuju kota Kendari. “Hati-hati di jalan, Seno. Doaku menyertaimu,” ucap Anna, sambil menepuk-nepuk d**a bidang Seno. Seno mengangguk, menatap Anna dengan tatapan hangatnya. “Ya. Doaku juga menyertaimu, Sayang,” balasnya. Kamu yang tetap semangat.” “Iya, Seno.” Seno berjalan mantap menuju pintu depan rumah. Sudah ada mobil yang mengantarnya di depan. Bejo, sopir pribadinya, dengan sigap mengambil tas dari tangan Seno dan meletakkannya di dalam mobil. “Papa!” Seno menoleh dan berbalik, melihat Cecilia berlari ke arahnya, juga Anik yang berjalan cepat sambil menggen

