Nempel Banget

1505 Words
Kiara memeluk Dani dari belakang, dia menghirup udara segar yang ada di sepanjang perjalanan, juga bau parfum khas yang sering dikenakan oleh Dani membuat dirinya menjadi sangat candu bila di dekat kekasihnya ini. "Tumben nempel banget? Mau apa, hm?" tanya Dani melihat wajah Kiara dari kaca spion. Kiara tertawa lalu menggeleng. "Nggak ada cuman pengen gini aja," ujar gadis itu lalu menyandarkan kepalanya di pundak Dani. "Hari ini sibuk apa? Mau pergi pelatihan fisik abis pulang sekolah?" tanya Kiara seolah tahu apa yang menjadi kebiasaan Dani bepergian setelah sepulang sekolah. "Hem, nggak sih 3 hari mendatang aku cuman fokus sama kesehatan tubuh, pola makan teratur, olahraga juga olahraga biasa doang," ujar Dani sambil melirik raut wajah Kiara di balik kaca spion. Sebenarnya kalau boleh jujur, Dani pun juga kadang kasian dengan pikiran yang pasti selalu menganggu Kiara. Dani tau akan hal itu, apalagi gadis di belakangnya ini sempat bercerita soal ayahnya yang mati-matian membela bangsa Indonesia dan berakhir mempertaruhkan nyawanya. Dani ... bimbang, namun dia membulatkan tekadnya untuk mencapai mimpi itu. Dirinya tak boleh lengah hanya karena ini, impian sedari kecil yang dia dambakan harus dia capai semaksimal mungkin, dia harus menunjukkan bakat sesungguhnya apalagi kepada sang ayah. Ayahnya sempat meragukan dirinya, hingga Dani merasa kecewa. Namun kata ibunya, ejekan ayahnya itu justru menyuruh Dani untuk bangkit. Dani memegang tangan Kiara yang melingkar di pinggangnya. "3 hari ini mau ngapain? Mau ngabisin waktu sama aku apa kamunya punya kesibukan lain?" tanya Dani. Kiara tak menjawab, dia masih tak tau pasalnya sebentar lagi akan ada ujian akhir semester, dia akan naik ke kelas 12. Dan nilainya juga harus lebih daripada sebelum-sebelumnya, Kiara selain daripada fokus dengan organisasinya, dia juga fokus mengejar SNMPTN, dia berharap lulus karena mengingat ibunya sibuk mengurusi dirinya dan adiknya, walau ada harta peninggalan sang ayah namun Kiara tak boleh membuang kesempatan ini, bukan? Kuliah gratis. **** Sama-sama punya impian, Dani terpaksa harus pindah ke luar provinsi karena beberapa alasan, keluarganya di Maluku juga jauh lebih banyak daripada di sini. Tingkat kesempatan buat masuk menjadi anggota TNI di sana lebih terjangkau buat dirinya, daripada di sini. Dani meneguk airnya hingga abis, menatap Kiara yang kini berjalan ke arahnya, Kiara duduk di samping Dani. Dia menatap kekasihnya lama lalu tersenyum. "Mau olahraga siang-siang bolong gini, gurunya salah atur jadwal banget sih, masa orang olahraga jam 1 siang, nggak etis banget." Kiara mengomel-omel seperti biasa. Dani tertawa, lucu sekali jika dia melihat wajah Kiara yang sedang marah seperti itu. "Izin aja, bilang aja lagi nggak enak badan nanti aku temenin di UKS, gimana?" tanya Dani menyingkirkan poni Kiara yang menganggu pandangannya. Kiara menatap Dani lalu menggeleng. "Nggak, masa kamu bolos sih? Jangan deh aku bisa kok olahraga, cuman ngeluh karena panas aja. Walau emang lapangannya ada lapangan khusus tapi ... malas aja gitu," ujar Kiara. "Mau aku temenin biar nggak malas?" Perhatian itu, selalu membuat hati Kiara berbunga-bunga entah dengan cara apa dia berhasil membuat Kiara menjadi senang, Dani adalah separuh dari kebahagiaan Kiara. Kiara tersenyum dia memegang tangan Dani. "Kamu tuh baik banget sih, tumben banget bucinnya ampe kecium di sini." Kiara menatap Dani. Dani mengacak-acak rambut Kiara. "Emang salah ya? Aku kan pengen ngabisin waktu sama ayangku," ujar Dani. Kiara benar-benar merasa senang untuk sekarang, memang benar ya merasakan jatuh cinta itu adalah perihal yang sangat indah buat manusia. Mereka berdua mengobrol bebas di kantin. *** Sekarang Kiara berada di ruang ganti, dia merapikan rambutnya saat setelah mengganti pakaian menjadi pakaian olahraga. Kiara mengusap wajahnya pelan, sepertinya dia harus terbiasa dengan hari-hari jika tiada Dani berada di sisinya, kenapa dirinya begitu tidak rela? "Lama banget sih Ra!!" Seseorang sedang menggedor-gedor pintu ruang ganti baju mengangetkan Kiara yang sedang menatap dirinya di cermin. "Oh ya soryy." Kiara mengambil baju batiknya dan keluar dari ruangan. Biasanya dia bersama dengan Shela, sahabatnya namun ... gadis itu izin ke rumah sakit mengantar kakaknya yang sedang sakit parah. Kiara tidak ada mood di sepanjang pelajaran, karena dirinya tidak ditemani oleh sahabatnya, Shela. Namun sikap Dani tadi cukup membuat dirinya menjadi mood kembali. Kiara berjalan menuju lapangan, melihat teman-temannya sedang berkumpul melempar-lempar bola basket dan saling tangkap menangkap, Kiara duduk di tangga tempat biasa orang menonton menunggu pak guru yang datang memberikan materi dan praktek. "Hari ini prakteknya apa bu ketua?" tanya Radit. Kiara adalah ketua kelas di kelasnya, dia menduduki jabatan itu juga karena pilihan langsung dari gurunya, dengan alasan Kiara adalah orang yang cocok untuk memimpin, Kiara heran namun dia tak menolak permintaan itu, dia menjalankan sebaik mungkin saat dirinya merasa diremehkan oleh seseorang, teman kelasnya sendiri. Jiwa untuk membuktikan bahwa dirinya layak sangatlah besar. Dan akhirnya, dia berada di posisi di mana dirinya dihargai sebagai ketua kelas. Walau di kelasnya masih sering terjadi masalah yang seperti anak-anak, namun dirinya berusaha untuk mengembalikan semuanya pada kendalinya. "Ah kurang tau, pak Ridwan juga nggak kasih tau aku," ujar Kiara. "Ra, ini Jakarta Ra, kenapa sih pake aku-kamu? Udah dari kelas 10 sampai sekarang masih aja gitu?" tanya Angel tiba-tiba mempermasalahkan logat bahasa Kiara. "Eh lo kayak nggak tau aja! Kiara kan asli bandung, dia bukan orang sini. Ke sini juga karena ibunya yang mau," sela salah satu siswa yang cukup dengan Kiara. Kiara sepertinya tak harus berkata-kata lagi, sudah ada yang mewakili dirinya untuk mengungkapkan apa yang dia ingin katakan. "Bukan nanya lo, gue nanya ke Kiara. Aneh aja gue dengarnya kayak alay," ujar Angel. "Dasar sewot jadi orang, kalau udah jadi kebiasaan nggak usah nuntut orang buat jadi apa yang lo suka," ujar Radit. "Iya deh kalian berisik amat, gue baru bersuara aja udah digituin, males gue di kelas ini. Gue kayak dipojokin semenjak dia jadi ketua kelas," ujar Angel. "Perasaan lo aja gila," ujar Radit membalas. Biasanya akan banyak lagi orang yang membuka suara baik membela Angel atau membela Kiara. Keduanya memang terlihat sedikit tidak akur, mungkin ada masalah, susah untuk mengetahuinya karena Kiara termasuk tipikal orang yang tidak pedulian, dia hanya fokus sama kebahagiaannya dan hal yang sudah menjadi tujuan hidupnya. Priut ... Pak Ridwan datang, dia menepuk beberapa kali tangannya untuk membuat anak-anak kumpul di lapangan dengan barisan yang biasa ditentukan. "Karena bapak hari ini ada kepentingan di ruang komputer untuk proses ujian kalian nanti, maka olahraga untuk hari ini tidak ada, kalian bisa kembali ke kelas kalian," jelas pak Ridwan. Bak seperti hadiah bagi Kiara, dia tersenyum dengan hati yang sangat bahagia. Dia sekarang sedang tidak bersemangat karena Shela, tidak datang ke sekolah. Semoga saja besok adalah hari yang baik, Shela datang dan mood Kiara kembali. **** "Jadi hari senin bakal diadakan ujian? Omg! Malas banget deh, aku belum belajar banyak," ujar Shela dari balik telfon. Kiara hanya mendengarkan sahabatnya itu. "Oh ya, gimana? Dani jadi pindah ya?" Kiara memberhentikan aksi menulisnya di atas ranjang king miliknya. Dia memperbaiki posisinya. "Nggak tau." Kiara hanya mengucapkan itu, walau dia tau betul bahwa Dani benar-benar akan pindah meninggalkan dirinya di Jakarta. "Hem gitu, semoga nggak deh. Btw aku udah mau pulang dari rumah sakit, besok aku ke sekolah, aku tau kamu rindu ...." Terdengar suara menggoda dari balik telfon membuat Kiara tertawa. "Tau aja deh, yaudah hati-hati deh. Aku mau tidur, ayang nggak ngechat jadi nggak semangat," ujar Kiara lemas. "Dasar bucin!" Shela mematikan telfon sepihak, Kiara hanya tertawa. Menunggu notif Dani malam ini cukup membosankan baginya, dia memilih untuk menonton drama Thailand kesukaannya, Kiara menatap layar laptopnya dengan drama yang terputar di sana. Kiara menguap beberapa kali baru kali ini dirinya mengantuk saat sedang menonton. "Kamu udah makan?" Suara Anita terdengar, Kiara menoleh ke samping pintu kamarnya terlihat ibunya yang berdiri di ujung pintu. "Nggak ma, lagi nggak mood makan." "Jangan gitu, liat badan kamu udah kurus gitu, enggak sayang sama tubuh kamu apa? Kalau lagi sedih cerita sama Mama, jangan sampai mogok makan gitu," ujar Anita. Kiara menghela napasnya pelan. "Kiara lagi nggak pengen makan, Ma." "Dikit aja, makan kalau kamu masih sayang sama Mama. Jangan sampai sakit, Mama masih banyak kerjaan buat ngurusin 3 anak, kerja dan segala macam, adikmu ada 2 kamu harus bisa jaga kesehatan buat tetap bertahan hidup ... kalau tiba-tiba Mama udah nggak ada kamu yang gantiin posisi mama," ujar Anita. Kiara menggeleng, dia tiba-tiba takut mendengar penuturan ibunya, ditinggal Dani saja dirinya tak sanggup apalagi ditinggal sang Mama, orang yang menjadi belahan jiwanya. "Oke ma, jangan ngomong gitu ... Kiara makan sekarang," ujarnya turun dari ranjang miliknya mematikan laptopnya dan keluar dari kamarnya melewati ibunya yang masih menatap dirinya. Kiara berjalan ke dapur dia membuka tudung saji, dia melihat makanan yang sudah disiapkan ibunya, masih ada, keluarganya sudah makan, hanya dirinya saja yang belum. "Kakak aku ada tugas matematika, tapi susah ... mau bantuin?" tanya Revan—anak kedua dari saudaranya. Dia adalah adik tertua Kiara, umurnya masih 8 tahun. "Iya nanti kakak bantu kalau abis makan, kamunya kerja aja dulu kalau salah nanti kakak bantu benerin deh," ujar Kiara. Revan dengan semangat mengangguk, lelaki kecil itu berlari menuju ruang tamu. Kiara melanjutkan makannya, setelah selesai makan dia pergi menyusul adeknya sudah lama dia tak pernah membantu adeknya untuk mengerjakan tugas, dikarenakan dirinya juga sibuk dengan sekolahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD