DRAMATİS DAN HUMORİSTİS

1084 Words
Haduh... aku cukup pusing pada saat ini. Bagaimana jika mahasiswa yang lainnya benar-benar tidak jadi datang, terutamanya pada pagi ini, Aku dan Peyo menjadi cemas. "Pey, Hey, apa kau suka humor,?" Tanyaku padanya dan sedang di sebelahku. "Ya iyalah Kak Yup, mata kuliah Humoristis ini, aku suka banget,!" Katanya dia menjelaskan namun tampak cemas. Tentu hal itu akan berdampak pada pertemuan kami berikutnya. Aku melihat sekarang sudah memasuki jam 08.00 Wrd, namun belum ada juga yang datang. "Waktu Negara Republik Damba 'Wrd'." Perkuliahan sudah dimulai pada jam 07.30 tadinya, jika aku melihat dari jurnal yang tertera. Tentu perkuliahannya sudah telat selama tiga puluh menit. Pantas saja Pak Dosennya semakin bertambah marah. Pagi hari yang dingin ini tiba-tiba saja berubah menjadi hangat, atau juga panas, mungkin karena bentakannya Pak Dosen yang telah merubah suasananya. Suasananya berubah menjadi lebih Dramatis dan juga Humoristis, walaupun telah bercampur dengan bentakan serta kemarahan, tapi nuansa akademik tetap mantap. Seperti sebuah permainan di lapangan bola yang luas, tapi para pemainnya hanya tiga orang saja, tentulah tidak akan mudah dalam mencetak gol yang indah. DOSEN GALAK Wah, Padahal pada pagi aku ingin memberikan pelajaran mata kuliah Humoristis dan juga Drama KR, lalu cabang-cabangnya seperti HK, yakni mata kuliah Humoristis Kocak. Akan tetapi, mereka malah tidak masuk pada pagi ini. Kalau begini, nanti akan saya beri nilai yang pantas saja untuk mereka. Agar mereka takut dan kapok, Pak Dosen Galak berkata dalam benaknya. PEYO YOPIO Aku belum tahu siapa namanya Pak Dosen galak ini,? walaupun begitu aku tetap menghormatinya. Semoga ia mau mengenalku, dan aku pun akan melayaninya dengan baik. Aku adalah ketua kelas, tentu diriku akan berusaha sebaik dan semampu yang bisa ku lakukan. Akan tetapi, mereka-mereka pernah bilang, kalau suaranya Pak Dosen ini sungguhlah keras. Bahkan ada mahasiswa yang sampai-sampai memakai headset, tentunya ketika mendengar Pak Dosennya berkata. Namun bagiku, hal itu adalah sesuatu yang biasa saja, Peyo berkata dalam benaknya. YUPI YUPİTER Aku senang kalau di ajar olehnya Pak Dosen, walau kami belum berkenalan. Karena mata kuliah Humoristis ini adalah favoritku. "Hey...,! Kamu Yupi kan,! cepat cari sana teman-temanmu,! dan suruh masuk ke kelas sekarang,! ayo sana,! cepat,!" Seruannya Pak Dosen menyuruhku. "Oh Iya Pak. Saya Yupi Yupiter, tapi saya bukan ketua kelas loh Pak. Apa saya harus mencari yang lainnya begitu,?" Aku menjelaskan kepadanya dan juga bertanya. Pak Dosen itu malah menjadi bingung dan matanya menatapku dengan tajam. Tatapannya cukup lama, bahkan sedikit membuatku menjadi merinding. Aku penasaran mengapa Pak Dosen ini begitu keras suaranya?. Apakah ia memang benar-benar seperti itu,? ataukah hanya bercanda saja?. "Tentu aku tidak mengetahuinya." Aku merasakan adanya getaran-getaran, benar-benar keras, nyaring, dan seperti tak ada rasa takut. Kemudian Pak Dosennya tampak bingung, lalu ia menyuruh kami untuk menanyakan yang lainnya. SHESİ RHEİNYU Waduh, Pak Dosennya ini kenapa ya?. Pagi-pagi begini sudah marah-marah, aneh loh?. Aku jadi tidak fokus belajar kalau begini. Hmm... tapi aku takut juga, kalau-kalau saja ia membentakku. Lebih baik aku mendengarkan dulu deh, Shesi berkata dalam benaknya. YUPI YUPİTER Suasananya sedang mencekam pada saat ini, hal yang seperti ini aku sebut dengan sebutan dramatis dan humoristis, yakni suatu kelucuan yang tak bisa terucapkan, kalau disingkat menjadi 'DRAHUMORİSTİS'. "Permisi ya Pak, kemana saya harus mencari mereka yang lainnya ya,? soalnya tidak ada yang bisa di hubungi Pak, gimana ya,?" Tanyaku padanya yang sedang bingung, karena ku disuruh mencari mahasiswa yang lainnya. "Ah... Apa kamu banyak tanya lagi, apa kamu tidak kenal saya,? saya tidak mau tahu ya,! mau kamu cari kemana kek,! terserah kamu!. Saya tidak perduli,! paham,!" Pak Dosennya berkata dengan tegas dan tidak mau tahu. "Keras kepala sepertinya Pak Dosennya ya?." Aku bingung kemana ku harus mencari mereka semuanya, lalu ku tanyakan lagi kepadanya Pak Dosen dengan lebih lembut, agar sesuatu yang keras tadinya diharapkan dapat mencair. Akan tetapi, Pak Dosennya malah diam dan tetap tidak mau tahu. Dia telah menyuruhku dengan tegas, dan aku berkata. "Mereka sudah saya chat di grup Pak, tapi tidak ada yang menanggapinya, bahkan ada yang di telepon, namun malah tidak di angkat oleh mereka Pak," Aku menjelaskan kepadanya dengan jelas. "Oh begitu, tapi saya tidak percaya ya, mana coba lihat,?" Tanyanya Pak Dosen padaku. "Baik kalau begitu, saya masukkan saja sekarang Pak Dosennya ke grup kelasnya ya Pak ,!" Kataku padanya agar lebih jelas. "Wah kamu tidak kenal saya ya,! sudah sana cepat masukkan,! banyak tanya lagi,!" Katanya Pak Dosen padaku dan bersikap seperti Bos besar. "İni Bos atau Dosen ya?." Aku langsung masukkan dirinya ke grup kelas dan kemudian ia menjadi diam. Pada saat ini, sedang ada Peyo ketua kelas di sebelahku. Kemudian aku jawab perkataan Pak Dosennya tadi dengan pelan. "Hmm... Anu Pak, saya memang tidak kenal sama Bapak, kan, kita baru bertemu Pak, gimana ya,?" Kataku kepadanya Pak Dosen dengan hormat. Setelah aku berkata dan kemudian Pak Dosen malah marah. Padahal sudah aku katakan kepadanya berkali-kali, bahwa ku tidak kenal dengannya, karena ini adalah pertemuan pertama kami. "Bahkan kami belum berkenalan loh, gimana ya?. Aneh kurasakan, aku sudah bilang tidak kenal tapi kok Pak Dosennya malah begitu." Aku melihatnya pun baru kali ini saja bersama dengan Peyo dan Shesi, namun tatapannya Pak Dosen seperti tidak mau tahu. SHESİ RHEİNYU Waduh, Pak Dosennya kenapa ya mengomel-ngomel terus?. Mana suaranya keras banget lagi, wah bisa kacau kalau begini. Aku sekarang sedang deg-degan dan juga gugup, lalu bercampur dengan cemas dan panik, terutamanya karena mereka yang lainnya belum ada yang datang. Pada saat ini kami hanya bertiga loh, wah gimana ya?. Apakah kami akan jadi berkuliah atau tidak pada hari ini?. Hmm... aku lebih baik diam saja deh, Shesi berkata dalam benaknya. DOSEN GALAK Hah, aku sedang marah besar, perkuliahanku sudah telat lama, tapi mereka malah seperti tidak memperhatikan. Tapi, tiga orang yang hadir pada pagi ini cukup bagus dan baik, lalu mereka juga rajin. Tentu akan aku anggap sebagai mahasiswa humoristis yang rajin, dan hormat kepadaku. Sebelum-sebelumnya tidak pernah seperti ini, baru ini kali saja mereka begitu, hmm... aku mesti mencari tahu, ada apa sebenarnya ya?. Apakah ada yang menyuruhnya,? atau mereka memang tidak ingin masuk pada perkuliahanku?. Awas ya mereka-mereka itu,! saya ini Dosen senior loh, akan saya catat mereka, Pak Dosen berkata dalam benaknya. YUPI YUPİTER Aku sudah cukup mengerti akan apa maunya Pak Dosen, tapi ku sedikit segan kepadanya, terlebih lagi kami dan yang lainnya belum mengenalnya. Akan tetapi aku heran, mengapa ia tiba-tiba saja marah dan berteriak, padahal aku sangat menghormati dan mengaguminya. Mungkin, inilah yang dikatakan dengan suka dukanya dalam berkuliah. "İya kan Pey,?" Tanyaku padanya. "Apanya yang iya Kak Yup,?" Eh Peyonya malah balik tanya kepadaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD