“Siapa yang marah?” tanya Satria. Lelaki itu akhirnya menghentikan langkah. “Maaf ya. Gue kan nggak tau kalo lo ikut ngebantuin.” Satria hanya mengangguk. “Terima kasih ya. Lain kali gue pasti cerita mendetail deh ke lo. Gue cuma mau ngetes seberapa usaha Ben untuk bantuin gue. Kedepannya bakal gitu juga. Sampa titik Ben mau ngelawan Pak Aris demi gue. Biar kita bisa bongkar kejahatan mereka.” Satrua terdiam dan menatap Selin. Kalau dipikir-pikir, perempuan itu jauh lebih pintar dalam menangani situasi ini. Setidaknya Selin ikut berpikir bagaimana cara terbaik menyelesaikannya. Bukan tipikal menjadi boneka yang hanya ikut apa saja ucapan Satria. “Aku percaya kamu pasti bisa. Akting kamu aja nggak dicurigain Ben selama ini.” Satria sepertinya harus berhenti mengkhawatirkan perempuan

