Pengakuan

1014 Words

            Azza tersenyum. s**l, ini jelas tidak seperti dirinya yang biasa. Aji sudah pulang beberapa menit yang lalu setelah mampir untuk menumpang mandi di rumahnya. Pemuda itu sudah tampak lebih baik dan itu melegakan Azza. Lalu sekarang, Azza tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain hanya tersenyum sendirian seperti orang bodoh.             Benar-benar menjijikkan, bahkan untuk dirinya sendiri.             Esok hari akan lebih baik—setidaknya itu yang Azza pikirkan, tapi masa bodoh lah, toh Azza sudah terbiasa dengan tekanan hidup apapun. Ya, terlalu terbiasa. . .             “Gue ngeliat lo kemarin. Apa yang kalian lakuin?”             Azza tak menanggapi, ia lanjut berjalan. Memang sejak awal ia sendiri tak begitu tertarik untuk membicarakan kejadian itu dengan orang lain,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD