Bian sudah pulang ke rumah lebih dulu di antar oleh Andri.Bian masih mengenakan seragam sekolah menyeduh segelas pop mie di dapur.
Ibu Deza hari ini tidak sempat memasak karena banyak pekerjaan.Bian dan Deza diminta memesan makan di luar saja jika kelaparan.
Bian sibuk bermain ponsel sambil menuangkan air panas di dispenser kedalam cup pop mienya.
Bian ceroboh dan tidak melihat,bukan hanya pop mie yang ia siram dengan air panas tapi juga tangannya.
"Arrrrrrhhhh."Jerit Bian.Lebih buruk lagi,tangannya reflek dan menjatuhkan pop mie panas itu mengenai sekujur betisnya.
"Aaaaaaa."Bian semakin menjerit.
"Slap."Deza tiba tiba datang dan memegang tangan Bian."Kamu kenapa?!"Deza nampak cemas.Saat mendengar teriakan Bian tadi,ia langsung berlari menuju Bian.
"Kena air panas,betis aku juga malah kena tumpahan kuah mie yang panas."Bian meringis menahan sakitnya.Belum juga kakinya sembuh total sekarang ia malah terguyur air panas lagi.
Melihat kulit tangan Bian yang memerah,Deza juga ikut panik dan kasihan.
"Kita ke klinik aja,deka sini ada.Di rumah nggak ada saleb luka bakar atau apapun."Ujar Deza yang sudah terdesak.
Bian mengangguk saja demi mana yang baik.
Di klinik,Bian di obati agar lukanya tidak terasa perih lagi.
Deza dengan setia menunggu Bian dengan harap harap cemas seperti suami yang menunggui isteri yang akan lahiran.
Selang 10 menit,Bian sudah bisa di jenguk dan duduk di ranjang periksa tadi.Deza masuk dan mendekat pada Bian.
"Gimana katanya luka kamu?"Tanya Deza pada Bian.
"Nggak apa apa,di kasi saleb sama antibiotik aja nanti.Ini nggak parah kok."Bian menjelaskan dengan tubuh yang masih lemah.
Deza mengusap rambutnya ke atas."Ya udah,lain kali kamu lebih hati hati ya."
"Iya,makasih juga udah nolongin."Bian terenyuh pada Deza yang masih peduli padanya walau ia sempat mengatakan kata yang tidak pantas bahkan kasar untuk Deza.
"Mau pulang sama aku apa telepon Andri aja?"Deza tahu diri jika Bian masihlah tetap pacar Andri.
Bian menatap Deza sendu."Kamu aja,kalau nggak ngerepotin."Bian memilih Deza pastinya.
Deza tersenyum simpul lalu memapah Bian pulang ke rumahnya.
***
Pulang sekolah,Andri mendapati ayah dan ibunya bertengkar kembali.
Keduanya bersahut sahutan bahkan sampai membanting entah itu gelas atau piring.
"Ceraiin aja aku!Buat apa kita sama sama kalau kamu nggak pernah cinta sama aku!"Protes ibu Andri dengan suara keras.
"Kenapa sih kamu ngajak ribut terus!Nafkah lahir batin aku kasi!Aku juga bantu kamu urusan rumah tangga!Kita udah punya anak!Terus kamu maunya aku gimana lagi!Semuanya salah!"Ayah Andri juga ikut menyahut omongan isterinya.
"Tapi nggak sedikitpun ada bumbu cinta di hati kamu buat aku!Kamu masih mikirin wanita itu kan!!!Kamu cuma kasi aku tubuh kamu!Tapi perasaan kamu cuma 0 buat aku!"
"Jadi mau kamu apa?!"Ayah Andri juga sudah lelah dengan serangkainya perselisihan rumah tangganya yang tidak kunjung usai.
"Lebih baik kita cerai."Itulah jawaban ibu Andri.
Andri yang menguping pembicaraan itu lalu keluar lagi dari rumahnya.Ia mengebut dengan kencang.
Pedih hatinya saat tahu orang tuanya akan bercerai.Terlebih ada sosok wanita lain yang membuat rumah tangga orang tuanya hancur di sini.
Andri menangis didalam helmnya karena keretakan rumah tangga orang tuanya.Ia berkumpul dengan teman teman satu gengnya dan mulai mencoba merokok sebagai saran temannya agar merasa lebih baik.
Andri yang galau lalu mudah terkontaminasi dan mau saja mencoba rokok yang sebenarnya tidak baik untuk kesehatan itu.
***
Deza dan Bian sudah sampai rumah.Deza meminta Bian menunggu di meja makan sementara ia menggoreng telur untuk makan siang Bian.
Karena tangan Bian terluka,Deza juga menyuapi bian sambil meniupi makanan Bian agar tidak panas.
"Aaaa."Deza meminta Bian membuka mulut.
"Hap."Bian melahap sesendok nasi yang Deza sodorkan.
Deza tersenyum melihat Bian yang mau makan.
"Hiks..Hikss."Sambil mengunyah makanan,Bian menangis.
Hal itu membuat Deza cemas."Kenapa Bian?Ada yang sakit?"
"Aku minta maaf,aku salah sama kamu.Padahal kamu baik banget.Aku malu karena kamu baik ke aku padahal aku udah jahatin kamu."
Mendengar alasan Bian,Deza lalu menaruh piring ditangannya ke atas meja.
"Slap."Deza memeluk Bian."Aku juga salah kok.Aku sengaja jadian sama Melzha buat nyakitin kamu dan manasin kamu.Aku juga udah lecehin kamu karena cemburu.Tadi pulang sekolah aku putusin Melzha.Aku udah pengen lepasin kamu dan kembali jadi aku yang dulu.Kalau memang kamu bahagia sama Andri,aku bakalan dukung.Tapi aku bakalan lebih milih sendiri lagi aja.Mungkin kita memang lebih baik jadi sahabat aja."
Bian ketar ketir karena Deza bilang akan mengalah dan lebih baik menjadi sahabat saja.'Itu berarti rasa spesial dia ke aku juga kehapus?Kenapa aku jadi nggak rela?'Bian resah di balik punggung Deza.
Bian lalu meregangkan pelukan itu,ia mamandang Deza dari dekat bahkan amat sangat dekat.
"Slap."Bian malah menyambar bibir Deza tanpa ragu.Ia mengalungkan tangannya di leher Deza.
Deza masih diam dan hanya Bian yang terus beraksi.Sampai Deza tahu makna ciuman ini.'Dia pasti nggak mau kehilangan aku karena kata kata aku tadi.'
Deza mulai membalas ciuman bertubi dari Bian.Walau dengan seragam sekolah yang masih melekat.
Deza memeluk tubuh Bian erat dan tersenyum saat ciuman itu.
***
Bian dan Deza berbaring di ruang tengah,Bian berbaring di atas lengan Deza tepat di samping Deza.
Lengan keras Deza sangat nyaman menjadi bantalnya.Deza melipat sebelah tangannya dan menaruhnya di bawah kepalanya.
"Kok pacar orang baringnya di samping cowok lain."Deza mengolok Bian.
"Iya iya,besok aku putus terus balikan lagi sama cowok songong di sebelah aku."
Deza lalu mengubah posisi.Ia membaringkan kepala Bian di lantai.Deza lalu menopang kepala dengan satu tangannya.Ia menatap Bian yang berbaring di bawahnya.
Deza mencubit pelan pipi Bian sambil tersenyum.
"Deza,kamu cakep banget sih."Puji Bian terang terangan.
"Makanya pas di ciptain dulu tuh bangunnya pagi,biar di kasi stok terbaik.Lah kamu bangunnya udah siang."Olok Deza pada Bian.
"Heuh!"Desah Bian."Aku gini aja banyak yang naksir apalagi aku cantik pakai banget,ntar kamu kelirik juga nggak."Bian sepandai pandainya mengolah kata.
"Iya iya,aku kalah."Deza lalu mengecup dahi Bian.
Keduanya bersatu kembali setelah bersiteru.
***
Bian menelepon Andri untuk mengajak putus.Bian tidak tahu jika Andri sedang putus asa karena masalah orang tuanya.
"Halo,Andri."
"Bian,aku senang banget kamu nelepon."Andri masih dengan sebatang rokok yang terselip di jarinya.
Bian jadi tidak enak karena Andri kelihatan senang padahal ia ingin memutuskan Andri."Andri,aku mau ngomong serius nih."
"Iya,ngomong aja.Aku suka dengar suara kamu.Aku lagi di tempat anak anak nongkrong nih."
"Andri,kita putus ya.Aku minta maaf banget.Orang tua aku larang buat pacaran dulu."Bian berbohong pada Andri tentang alasan sebenarnya.
Andri tercekat."Putus kamu bilang?"Ulang Andri.
"Iya,aku minta maaf ya.Kita temanan aja.Aku tetap ngeband buat festival kok."
"Aku kira kamu bisa ngehibur aku,orang tua aku bertengkar dan mau cerai.Sekarang kamu malah mutusin aku.Lengkap banget cerita sedih aku hari ini."
Bian kaget saat mendengar perkataan Andri.Ini berarti ia memutuskan Andri di saat yang salah dan tidak tepat.Bian sangat sedih dan merasa bersalah.
"Maaf ya Andri."
"Nggak apa apa,aku memang nggak pantas bahagia.Aku cuma manusia buangan dan nggak di anggap."Andri memendam penuh kekecewaan.
Tidak lama,Andri yang mematikan telepon itu lebih dahulu.Andri menundukkan kepala dan menangis tersedu atas kesedihan beruntun yang menimpanya hari ini.