Andri juga undur diri dari acara kemah karena mencemaskan Bian.Sambil mengendarai motor,Andri menyelipkan ponsel di helmnya dan menelepon Bian.
"Halo,Andri."Jawab Bian.
"Halo,Bian.Kamu katanya cidera ya?"
"Iya,makanya aku pulang.Tapi ini udah mendingan kok."
"Kenapa nggak bilang aku sih?!"Nada Andri agak kesal disini.
"Maaf deh,soalnya kaki aku sakit banget tadi.Tapi ada Deza yang nolongin aku kok."Bian menatap Deza yang sedang mengurut kakinya dengan wajah kesal.
Tentu saja kesal,karena Bian menerima telepon dari Andri saat bersamanya.
'Ceweknya udah di bawa pergi baru nyari,ibarat ikan udah di gondol kucing baru heboh.'Deza memasamkan wajah tapi tetap telaten mengurut dan mengompres kaki Bian.
Tidak lama,Bian selesai bicara.Andri juga akan membesuknya ke rumah sebentar lagi.
Bian tegang lagi untuk bicara pada Deza jika Andri akan datang untuk membesuknya.
"Deza,Andri mau kesini.Nggak apa apa kan?"Tanya Bian dengan takut.
"Nggak apa apa,dia kan pacar kamu.Boleh aja."Nada bicara Deza sangat tidak enak dan seolah kebalikan dari apa yang di katakannya.
"Kalau kamu nggak senang,aku bisa larang dia kesini kok."Tawar Bian lagi.
"Sejak kapan kamu peduli aku suka atau nggak?Lakuin aja sesuka kamu.Toh aku sama kamu udah sama sama punya pacar.Aku punya Melzha."
Bian hanya bisa menatap agak sedih pada Deza."Iya ya,aku lupa kalau kamu udah punya pacar secantik Melzha dan jauh lebih baik dari aku."
Deza melihat kekecewaan pada wajah Bian.'Itu salah kamu sendiri yang nggak bisa jaga perasaan aku.Kalaupun aku sekarang jadi pacarnya Melzha,aku tetap peduli sama kamu kan?'
***
"Kamu kakinya parah nggak Bian?"Andri sudah di rumah Deza dan bicara berdua dengan Bian di ruang tamu.
"Udah mendingan kok,Deza udah kasi saleb pereda nyeri sama di pijat pijat tadi."Bian sebenarnya agak malas meladeni Andri karena tidak enakan dengan Deza.
"Kalau masih sakit kita bawa ke rumah sakit aja."Tambah Andri lagi.
"Eh busettt,ke rumah sakit.Baru liat infus belum di suntik aja mulut aku udah bebusa.Mendingan aku ke tukang urut atau pengobatan tradisional deh."Bian memang sangat ngeri dengan segala hal berbau rumah sakit.
"Kamu sih,jarum sebesar jari aja nggak malah takut.Kamu sama jarum kan besaran jarum,lah kenapa juga takut segala."
"Parno sama takut aja gitu,gimana juga kan jarum termasuk benda tajam.Ntar akunya meletus lagi kalau ketusuk."Canda Bian.
Andri mulai tertawa."Bisa aja kamu,ingat ya lain kali apa apa kamu bilang aku dulu.Kan kita pacaran,kamu harus andalin aku."
"Iya deh maaf,lain kali aku lapor ke kamu dulu kalau ada apa apa."
"Btw,Deza mana?"Andri celingak celinguk mencari keberadaan Deza.
"Di kamarnya paling."
"Oh gitu."Andri mangut mangut.Andri lalu melihat foto keluarga Deza bersama keluarganya.Disana,Andri melihat foto Deza yang mirip dengan ayahnya saat muda dulu.
"SLAP."Bian mengguncang bahu Andri.
"Eh."Andri terkaget sejadinya karena gerakan reflek itu.
"Ngapain kamu lihat foto segitunya?Naksir sama mamanya Deza ya?"Canda Bian asal.
"Asemmm!!!Ngawur kamu,aku jadi mainannya tante tante gitu."
Bian tertawa melihat wajah Andri yang mengomel serius.
Andri juga terpancing tertawa.Tapi setelah itu suasana jadi serius karena Ia dan Bian lalu saling memandang.
'Deg!Deg!'Bian mulai tegang.
Andri juga menelan ludahnya beberapa kali dan daun telinya memerah.
Andri mulai berani mencondongkan wajahnya pada Bian sedikit demi sedikit.
Bian juga tahu jika ini adalah pertanda di ajak ciuman.'Duh,ciuman kan ini?Ntar kalau pas ciuman ada penampakan Deza gimana?'Bian jadi ngeri ngeri merinding kalau sampai Deza memergoki.
Andri semakin dekat dan Bian sudah menutup mata.Saat Andri sudah sangat dekat untuk menyentuh garis finish bibir Bian.
"EHEM."Deza berdehem keras.
Bian dan Andri lalu tidak enak dan saling menjauh salah tingkah.
"Eh,itu,aku pulang dulu ya."Andri berdiri dan serba salah dengan gerakannya.
"Iya iya,kamu hati hati ya di jalan."Bian juga kelabakan karena di pergoki Deza.
Andri pulang dan Deza mendekat pada Bian.
"Jangan mesra mesraan di rumah aku!Aku bilangin orang tua kamu nanti!"Deza kesal dan memarahi Bian.
"Lah,sama kamu aja lebih dari itu dulu.Kamu sama Melzha juga ciuman di sekolah segala!"Bian malah keceplosan bicara.
"Terus kenapa!Sama aku ya boleh,ini rumah aku.Melzha juga pacar aku."Deza menjawab dengan songong.
Bian lalu terpancing emosi."Ya udah!Lain kali aku ke hotel aja biar kamu nggak ganggu!"Bian juga panas karena Deza semakin menjengkelkan.
Bian mencoba bangun sendiri dengan kaki yang luar biasa sakit ia paksa melangkah di banding minta bantuan Deza.
Bian meringis menahan sakit kaki dan hatinya.
Deza melihat bagaimana Bian terpicang,ia lalu mendekat dan menggendong paksa Bian.
"Turunin!"Ronta Bian.
Deza tidak peduli dan tetap menggendong Bian kekamarnya walau Bian memukul dadanya terus menerus.
"Kamu tuh jahat Deza!Kamu ngeselin!"
"Diam atau aku cium kamu!"Deza menatap dengan garis keras pada Bian.
"Pokoknya turunin!Aku bisa jalan sendiri!Aku nggak butuh kamu!"Bian masih melawan pada Deza.
Emosi Deza memuncah,ia mempercepat langkahnya membawa Bian malah masuk kekamarnya dan bukan kamar Bian.
Deza membaringkan Bian di kasurnya.
"BRUK."Tubuh Bian mendarat empuk di atas kasur.
Bukannya langsung pergi,Deza memegang tangan Bian kiri dan kanan.Hingga Bian terkekang tidak bisa bergerak.
"Kamu…."Belum sempat lanjut protes,Deza sudah membekap mulut Bian dengan bibirnya.
Deza mencium paksa Bian dan tidak peduli seberapa keras Bian meronta karena tidak akan mungkin menang melawannya.
'Ini kan yang mau kamu lakuin dengan Andri!Enak aja!Selama kamu masih dalam pandangan aku,jangan harap ya!'Bian tetap mencium paksa walau kepala Bian terus bergerak kesana kesini untuk menghindar.
Sampai Bian nekat dan menggigit bibir bawah Deza.
"Emhhh."Deza kesakitan lalu melepas ciuman itu.Ia merasa asin dan sadar jika bibirnya berdarah karena di gigit oleh Bian.
Tangan Deza masih mengekang tangan Bian.
"Cuihh."Bian bahkan meludahi wajah Deza."Kamu itu binatang Deza!"Rutuk Bian dengan mata berair.
Deza menerima perlakuan itu."Oke,anggap aja aku apapun sesuai yang kamu mau!"
Deza bangun dan meninggalkan Bian,peludahan ini memang penghinaan besar untuknya.
Bian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.'Kenapa aku harus kesini dan ngerasain ini semua sih!'Bian menangis sejadinya karena apa yang telah terjadi.
***
"Pelan pelan jalannya."Beberapa hari kemudian,Bian sudah sekolah kembali.Andri yang menjemput dan memapah Bian yang sudah bisa semakin baik berjalan.
Bian dan Deza tidak berteguran sejak hari itu.
Saat bertemu di sekolahpun keduanya seperti tidak saling kenal.Hal ini memancing pertanyaan Andri.
Itulah yang ia dan Bian perbincangkan di kursi mereka.
"Bian,kamu sama Deza kenapa sih?Kok jadi kayak musuhan gitu?"
Bian mendelik dan terkesiap."Ya gitu deh,aku ada masalah pribadi aja sama dia."Jawab Bian singkat.
"Masalah apa memangnya?Kamu ngutang dia terus nggak bayar gitu?"Tebak Andri asal.
"Enak aja,emangnya muka aku ada nampak hobi ngutang gitu?!"
"Iya maaf deh kalau salah."Andri mengatupkan kedua tangannya takut Bian marah.
"Udah deh,aku nggak mau bahas dia pokoknya."Tekan Bian sebagai peringatan.
"Iya iya,aku nggak bahas dia lagi kok."
***
"Kita putus ya,aku pengen sendiri aja.Aku nggak punya rasa sama kamu dan cuma manfaatin kamu buat waktu senggang aja."Deza memutuskan Melzha saat pulang sekolah di sebuah jalan yang sepi.
"What!!!Putus kamu bilang!Kamu suka banget sih mainin perasaan cewek,Deza!"Melzha tidak terima lagi dengan perlakuan semena mena Deza.
"Kamu kalau mau tampar atau tinju aku boleh kok.Aku nggak akan ngelawan."Deza membuka helmnya dan membiarkan kalau kalau Melzha ingin menampar atau meninjunya.
Melzha yang sudah menangis sambil menatap Deza dengan marah tidak tahu harus berlaku bagaimana.
"Kamu tuh perlakuin aku kayak closet aja tahu nggak!Yang kamu perlu dan temanin cuma pas kamu pengen berak atau pipis!"
Deza hanya diam mendengar perkataan Melzha yang penuh amarah.
"PLAK."Melzha akhirnya menampar Deza dan setelah itu tancap gas dengan motornya.
Deza memasang helmnya lagi dan santai saja memacu motornya.Ia sudah tidak butuh Melzha untuk memanasi Bian yang sudah benci padanya.