"Asik juga ya ngeband gini."
"Makanya,kita udah daftar.Kamu main gitar ya.Udah kece badai nih formasi kita."
"Iya deh,aku mau."Bian akhirnya setuju menjadi anggotan band Andri.
"Bian,aku mau ngomong serius nih."
Bian menatap Andri dan berhenti memetik gitar."Ngomong aja."
"Jadian yuk,jadi pacar aku."Andri to the point menyatakan perasaan pada Bian."Aku nggak pandai romantis romantis Bian.Tapi aku tuh suka sama kamu.Kamu unik dan lain.Kamu tipe aku banget."
Bian tersenyum kecil."Hahaha,kamu lucu banget.Gitu ya kamu nembak mantan mantan kamu."
"Nggak,kalau yang dulu dulu lewat hp,cuma kamu yang aku tembak langsung.Mau nggak Bian,aku malu nih kalau di tolak."
Bian menatap si anak laki laki pemilik senyum manis yang ada di hadapannya ini.'Daripada mikirin Deza sama kejebak kesal,mending jadian ma Andri aja.'
"Boleh,aku mau jadi pacar kamu.Tapi jangan lebay lebay ya.Kita biasa aja gitu nggak usah mencolok."Syarat Bian.
"Iya iya,aku juga nggak suka yang lebay pakai honey honey lah,ayah bunda lah ntar kalau putus seisi kebun binatang sampai nama neraka yang di sebut."
Bian tertawa mendengar perkataan Andri."Hahaha,benar tuh dari sayang jadi peyang kan."
Tapi Andri senang karena akhirnya bisa memacari Bian dan walau pacar tetap rasa teman.
***
"Murid murid,semuanya perhatian!"Guru yang berdiri paling depan bersiap membuka acara kemah hari ini.
Murid murid mulai tertib dan tertuju kedepan.Semuanya sudah berkumpul dengan pakaian bebas dan membawa perlengkapan juga persiapan untuk kemah.
"Hari ini,kita akan mengadakan acara perkemahan di sekolah.Bapak harap semuanya tertip!Jangan ada yang melanggar aturan!Jangan merokok!Jangan buat onar dan jangan m***m!"
Mendengar kata m***m anak anak langsung cekikian dan merespon aneh.
Deza kelihatan didempeti terus oleh Melzha.Delza berusaha tahan dan nyaman agar Bian sakit hati.
Tapi Bian nampak biasa saja dan sibuk berbincang tertawa dengan Andri.
Tapi yang membuat Deza gagal fokus adalah,sesekali sempat ia melihat tangan Andri menggenggam tangan Bian di celah celah barisan.
'Tangan mereka kenapa?'Deza langsung menggunakan otak geniusnya untuk menyimpulkan 'mereka jadian!'Deza bisa menjawab sendiri.
"SRAK."Deza menepis tangan Melzha yang menggenggamnya.
"Aku mau ke wc dulu!"Deza dengan wajah marah lalu meninggalkan Melzha.
"BRAK."Deza meninju dinding wc dengan keras.Deza melampiaskan amarahnya pada dinding wc yang salah pun tidak sama sekali.
***
"Nggak usah pegang pegang,malu tahu."Bian bicara setengah berbisik pada Andri.
"Culametan dikit boleh dong."Andri menggoda Bian.
Bian menampakkan senyuman manisnya.Bian lalu celingak celinguk mencari keberadaan Deza.'Lah,Deza kemana?Kok cuma ada si Melzha?'Tanya Bian dalam hati.
Deza kembali ke barisan tidak lama berselang,Deza menatap ke arah Bian yang menatapnya.
Deza memasang raut marah dan bencinya.
Bian makin aneh dengan kelakuan Deza.'Marah aja terus!Untung aku nggak lama sama dia.Kalau masih sama dia bisa tekanan batin tiap hari.'
Bian juga lalu balas buang muka dan mengibaskan rambut.
***
Acara perkemahan dengan banyak games seru di mulai.Semuanya bersenang senang dan turut serta dalam meramaikan.
Deza dan Bian sempat beberapa kali satu tim,tapi Deza sama sekali tidak menganggap Bian ada.Deza membuat seolah Bian hanya makhluk tak kasat mata yang antara ada dan tiada.
Sampai Bian malah terjatuh karena tudak sengaja tersenggol Deza.
"Awwwww."Kaki Bian sepertinya terkilir.
Jahatnya,Deza hanya melihat dan tidak menolong.
Bian yang kesakitan mencoba bangun dan bangkit.Ada air matanya yang ingin keluar karena kakinya benar benar terasa sakit.
Bian bahkan berjalan terpincang pincang,Andri yang asik dengan games lain tidak tahu jika kaki Bian terkilir.
Bian lalu menepi,hari sudah mulai gelap.Saat yang lain masih sibuk dengan berbagai permainan,Bian mendekat ke arah tenda dan duduk disana.
Ia membuka sepatu dan kaos kakinya,kelihatan sekali di pergelangan kakinya bewarna biru.
"Sakit banget,pantas aja di bawa jalan rasanya nggak mampu."Bian memerhatikan kakinya yang biru.
Bian sepertinya ingin izin pulang dan tidak bisa melanjutkan kemah.Tapi untuk berjalan saja dia tidak begitu mampu karena rasa sakit yang semakin mendera.
Bian lalu menangis karena tidak kuat menahan sakit.
"Hikss…Hiks."Untaian air mata Bian semakin deras jatuh.
Saat itu,Bian tiba tiba melihat seseorang yang mendatanginya.Bian menatap ke atas dan rupanya itu adalah Deza.
Deza berjongkok dan ikut melihat kaki Bian yang memar.
"Ngapain kamu kesini!Ini kan yang kamu mau!Lihat aku terluka!Ini juga gara gara kamu!Masih kurang sampai mau liat dari dekat aku kesakitan?!"Bian mengomel dan marah marah.
Deza tanpa bicara lalu memegang kaki Bian.
"Awww!Sakit tahu!"Protes Bian.
Deza mengurut perlahan dan mengoleskan cream pereda nyeri.Deza mengurut kaki Bian dengan perlahan.
"Kita pulang aja,kamu nggak akan bisa lanjut dengan kaki kayak gini."Deza akhirnya bersuara.
"Panggil Andri!Bian dia yang anterin aku pulang!"Bian masih kesal pada Deza.
Deza menatap Bian serius,Bian lalu takut sendiri karena wajah Deza yang menyeramkan.
Pada akhirnya,yang pulang dengan Bian adalah Deza.Deza bahkan menggendong Bian walau barang bawaannya di tasnya juga banyak.
Bian merasa tidak enak sebenarnya.'Dia yang mau kan gendong aku!Padahal aku udah minta suruh bilangin Andri.Tapi kenapa aku pakai acara bedebar debar gini sih!Jelas juga ia udah putusin aku!'Bian antara kesal dan tersentuh pada perlakuan Deza.
Bian bisa melihat d**a Deza yang membusung,porsi tubuh Deza yang SMA memang sudah terlihat seperti anak kuliahan.Apalagi wajahnya tampan dan kulitnya putih.Sudah dapat di pastikan,Deza akan menjadi pangeran kampus nantinya.
Deza sebenarnya merasa bersalah pada Bian.Ia tahu ia melukai Bian.Karena itu ia menepis rasa gengsinya dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
'Kalau aja kamu bisa semanis kayak kita kecil dulu.Tapi sekarang aku benar benar nggak bisa megang tali kendali kamu lagi.'Deza menganggakat Bian lebih tinggi dan tetap menggendongnya.
Sampai di rumah,Deza bahkan menggendong Bian hingga kekamar dan membaringkannya di ranjang.
"Dret..Dret."Hp di saku celana Deza bergetar.
Deza segera mengambil ponselnya dari saku celananya dan menganggakat telepon itu.
"Aku lagi di rumah,aku nggak bisa lanjutin kemah.Aku udah izin sama guru."
Bian tahu jika Deza sedang bicara dengan Melzha.
"Kalau kamu mau balik ke tempat kemah lagi nggak apa apa kok."Bian membuka suara.
"Terserah aku,kamu nggak ada hak buat merintah aku."Deza menjawab dengan ketus.
Bian lalu terdiam dan malu sendiri.
"Panggil aku kalau kamu butuh sesuatu."Tambah Deza lagi sebelum hendak pergi.
"Deza,tunggu."Bian memakai kartu bantuan.
Deza menoleh menunggu perintah Bian.
"Aku mau kekamar mandi Deza."Rupanya Bian sudah kebelet ingin buang air kecil.Daripada mengompol di celana lebih baik ia minta di antarkan Deza ke wc.
Deza tahu maksud Bian,dengan gagah,Deza yang sudah tanpa jaket lalu menggendong Bian lagi k wc.
Deza dengan setia menunggu sampai Bian selesai dan menggendong Bian kembali.
"Makasih ya Deza."Ujar Bian saat dalam gendongan Bian.
Deza menatap Bian dan hanya membalas dengan senyuman kecil.
'Deg!'Jantung Bian berdegub kembali.Baru kali ini lagi ia bisa melihat senyuman Deza setelah beberapa hari Deza memusuhinya.
***
Andri baru kelabakan saat tahu Bian pulang karena cidera kaki.
"Kok kamu nggak bilang sih!"Protes Andri pada temannya.
"Lah kamu baru nanya,kok ngegas banget sih."Tentu saja yang ditanya ini kesal karena jadi sasaran kemarahan Andri.
"Ah,udahlah!"Andri menjawab nada membanting.
Andri lalu pergi dan bergegas pulang.