Sepulang dari warteg, Naka langsung melaju ke rumahnya dan meninggalkan Karel yang menatapnya heran. Ia tidak menyangka akan bertemu Ceril di sana. Padahal niat awalnya hanya menumpang berteduh. Bertemu dengan orang yang menarik perhatian jelas menyenangkan bukan? Jelas. Tapi kenyataan yang baru Naka ketahui perlahan memupus harapan-harapan semu yang masih ia pertanyakan. Naka ... bingung dengan dirinya sendiri. "Lino mantan Ceril?" Naka mengusap wajahnya kasar. "Dunia ini beneran sempit, ya." Ucapan Naka dijawab oleh embusan angin yang masuk melalui jendela kamarnya. Naka tak mengubris, berniat menutup jendelanya pun tidak. Membiarkan angin dan suasana senja menyorot dengan bebas. "Kok gue jadi gak enak hati, ya?" Laki-laki itu lantas menghempaskan tubuhnya di ranjang. "Apa gue

