Bodoh

1019 Words
Tok Tok Ceklek Elena membuka pintu kamar Dion yang tertutup dengan sangat rapat tanpa ditemani Ayu yang kini tengah mengurus perpisahannya dengan Angga. Elena masuk ke dalam kamar dengan menatap pria tampan, benar-benar sangat tampan tengah duduk makan, makanan yang sudah disiapkan Rumah sakit. Melihat Dion makan saat ini, ada sedikit rasa terhenyut didalam dadanya! ada rasa menyesal, kasihan, dan juga rasa penasaran, kenapa tidak ada yang menemani dia. "Hay" sapa Elena dengan pelan Dion yang ada didepan Elena dia hanya diam saja! tidak peduli dengan sapaan perempuan cantik yang sudah berbaik hati menolongnya dari kejaran musuh yang sengaja menjebaknya. Elena yang merasa tidak diperdulikan dia, semakin mendekati Dion dengan langkah pelan! dia ingin menebus kesalahan yang sudah dia lakukan, padahal sebenarnya bukan lah kesalahan Elena. "Maafkan aku! beberapa hari yang lalu aku mabuk, jadi tidak fokus mengendarai mobil" lirih Elena penuh dengan sesal Dion masih saja diam, dia tidak berminat untuk menyahut apa yang dikatakan Elena, dia sudah tau! karena sebelum Elena datang, ada orang Elena yang datang untuk meminta maaf atas nama Elena. "Emm, kenapa kamu diam saja! apa kamu tidak mau memaafkan aku?? kamu boleh minta kopensasi berapa pun! dan aku juga akan bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi" lanjut Elena Hemmss Dion membuang napas kasar mendengar apa yang dikatakan Elena, dia sudah menghubungi anak buahnya untuk mencari tau soal Elena yang tiba-tiba ada ditempat kejadian!. Dion tau kalau Elena bukan lah termasuk orang yang ingin melenyapkan dia! Asisten pribadi Dion sudah mencari tau semua tentang Elena dan kenapa dia ada dijalan yang sepi saat malam kecelakaan. "Apa yang bisa kamu berikan pada ku??" tanya Dion tanpa menoleh ke arah Elena. "Kamu butuh uang?? atau butuh pekerjaan, atau apa?? kamu katakan saja" sahut Elena Dion menoleh ke arah Elena yang ada disampingnya! dia menatap perempuan cantik yang masih memakai baju pasien yang sama dengan dia. Dion menatap dari atas sampai bawa! tatapan Dion sangat sulit untuk dijelaskan, termasuk Elena yang menatap, tidak paham arti tatapan Dion. "Aku butuh tempat tinggal! aku tidak ingat keluarga dan Rumah ku, aku hanya tau nama ku Dion" ucap Dion berbohong. "Ah, apa sampai separah itu??" lirih Elena dengan menunduk "Kenapa, kamu berubah pikiran??" tanya Dion dengan senyum miring! dia tidak percaya kalau di Dunia ini ada orang yang benar-benar tulus, ikhlas dan juga mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan termasuk Dion sendiri, pria munafik, keras kepala, egosi, berdarah dingin, tidak punya rasa simpatik dan empati sama siapapun. "Bukan-!!." lirih Elena dengan mendongak menatap Dion Tatapannya penuh dengan kesedihan, tidak ada ke pura-puraan didalam matanya! dia seolah tengah menunjukkan kalau dia bukan lah orang yang tidak bertanggung jawab. "Aku hanya merasa bersalah dengan kamu! kalau bukan karena aku, kamu tidak akan disini dan sampai melupakan keluarga kamu" lanjut Elena "Oh yah! setelah kamu diperbolehkan pulang, untuk sementara waktu kamu tinggal saja di Rumah ku" lanjut Elena. "Okay" sahut Dion dengan santainya Dion memang dengan sengaja berbohong, bukan karena ingin memanfaatkan kebaikan Elena, tapi dia ingin mengelabuhi musuhnya! dia ingin membuat semua musuhnya tau kalau Dion tidak mudah menemui ajalnya. Dion menduga orang yang berusah untuk mencelakainya adalah orang terdekatnya dan mungkin saja orang yang sama seperti 10 tahun yang lalu. Dimana usia Dio masih 18 tahun, dia baru saja akan menempuh pendidikan di Luar Negeri! sayang saat dalam perjalanan ke Bandara, mobilnya mengalami rem blong. Setelah kejadian itu Dion menghilang tanpa ada jejak! dia berobat dan juga menempuh pendidikan di LA! tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Nenek dan Kakeknya yang kini masih terus mencari keberadaan Dion, setelah mereka mendengar Dion diserang musuh. Nenek dan Kakek Dion menyirakan di stasiun TV, Radio, untuk mencari keberadaan Dion yang baru saja pulang tapi sudah mendapat serangan dari orang yang dekat dengan Nenek dan Kakek Dion. Nenek dan Kakek Dion tidak akan berhenti mencari keberadaan cucu kesayangan mereka berdua! berbeda dengan Dion yang lagi-lagi bersembuyi untuk mengelabui musuh. Padahal dia jelas tau kalau tidak akan mungkin mudah mengelabui untuk yang kedua kalinya! karena setelah kejadian 10 tahun yang lalu, sekarang dia tiba-tiba kembali dan ingin merebut kembali semua yang harusnya menjadi miliknya. Setelah semua hampir saja Dion dapatkan, siapa sangkah musuh kembali bertindak! kini musuh yakin kalau Dion belum meninggal, dia bersembuyi disuatu tempat. Musuh Dion yang tidak lain adalah Pamannya sendiri, dia mencari keberadaan Dion mulai dari Rumah sakit, Hotel, Bandara, Stasiun, Halte semua anak buah Paman Dion dikerahkan hanya untuk mencari satu orang saja. Kali ini Dion akan membuat Erick Mahendra merasakan apa itu bermain api yang sangat sulit dipadamkan dan bisa saja membuat kebakaran hebat. "Paman! tunggu aku kembali" batin Dion dengan kembali merebahkan dirinya yang sudah merasa sangat lelah, padahal dia hanya duduk sebentar dengan meladani apa yang Elena katakan padanya. "Apa kamu merasa lebih baik?? apa ada sesuatu yang kamu rasakan saat ini??" tanya Elena melihat Dion tampak acu tak acu dengan dirinya. "Aku merasa kamu perempuan yang sangat polos tapi bodoh" sahut Dion sangat jauh dari apa yang ditanyakan Elena padanya! Elena menatap Dion dengan tatapan yang sangat polos. "Ah?? maksud kamu??" tanya Elena tidak paham dengan apa yang dikatakan Dion "Kamu baik ke semua orang! dan belum tentu kebaikan mu dibalas dengan kebaikan" sahut Dion tanpa menatap Elena yang menunduk, dia tau kalau dia selama ini terlalu bodoh dan sangat mengakui kalau dia bodoh. Emmm.. "Kamu benar!" sahut Elena dengan menganggukkan kepalanya dengan pelan, dia tidak menyangka kalau dia selama ini adalah perempuan bodoh yang mau saja di tipu Angga. "Aku sangat mencintai dia, tapi sayang cintanya bukan untuk ku! ada cinta baru yang semakin membuat ku muak dekat dengan Angga" Elena menceritakan isi hatinya pada Dion pria yang baru dia temui "Aku sadar dan benar-benar sadar atas apa yang sudah terjadi!" lanjut Elena "Lalu kenapa kamu masih mau membantu ku, harusnya kamu hanya memberi ku uang tanpa mau menanggung semua" tanya Dion dengan menatap Elena. Elena terdiam mendengar apa yang ditanyakan Dion, dia tidak tau kenapa dia merasa harus tanggung jawab dengan Dion. "Tidak tau, aku ke kamar ku dulu" sahut Elena dengan berbalik, dia meninggalkan Dion yang hanya melihat dan tersenyum miring melihat kepergian Elena yang mana tidak mau menjawab apa yang dia tanyakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD