
Istana Pasir
- 30 Mei 2012 -
Deburan ombak terdengar merdu di telinga setiap individu yang sedang menikmati hari libur di pantai Lemo . Berpasang-pasang kekasih saling bergandengan tangan menyisiri pinggiran pantai Lemo . Ada juga yang hanya duduk termenung menikmati setiap detik tarikan nafas yang ia rasakan . Bagi seorang fotografer , ini adalah salah satu kesempatan untuk mengabadikan momen indah di kehidupan yang ia temui , melalui kamera ia akan men-save gambaran yang terpampang di hadapannya ini untuk jadi pengetahuan dan kenangan . Namun bagi seorang pelukis , mengabadikannya harus melalui cat warna , kuas , dan kanvas . Tak lupa suasana hati harus seirama dengan pemandangan yang hadir di depan mata , agar lukisan tersebut terlihat hidup di atas kanvas .
Seorang gadis kecil sedang asyik membuat istana Pasir , namun sayang berkali-kali ia mencetak istana Pasir tersebut , berkali-kali juga istana Pasir tersebut akan roboh . Karena capek dan kecewa istana Pasir tersebut tak pernah jadi , ia melempar ember pencetak pasir beserta penyendok pasirnya ke arah depan , lalu ia menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu . Tanpa ia sadari , seorang anak laki-laki sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya . Anak laki-laki tersebut tersenyum melihat tingkah lucu nan menggemaskan gadis kecil itu . Ia pun menghampirinya lalu mengambil ember dan penyendok pasir yang sempat gadis kecil itu lempar .
" jangan menangis lagi , biar aku ajari kamu cara membuat istana Pasir ," ucap anak laki-laki tersebut menenangkannya .
" apakah kamu bisa membuatnya ," tanya gadis kecil tersebut .
" kita lihat saja ," katanya sambil tersenyum . Ia mulai menyendok pasir lalu memasukkannya ke dalam ember , kemudian menekan pasir tersebut agar menyatu dengan yang lainnya . Ketika ember tersebut telah penuh , ia membalikkannya dan menepuk-nepuk bokong ember sebanyak tiga kali , lalu mulai mengangkat ember perlahan-lahan . Pasir tersebut berdiri kokoh membentuk sebuah bangunan istana . Gadis kecil itu tersenyum riang ....
" untukmu ... ," ucap anak laki-laki tersebut .
" benarkah ... terima kasih ," gadis kecil tersebut memeluk anak laki-laki itu , ia bahagia karena istana pasirnya sudah jadi .
" ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil .
" tapi ini sudah sore ... tidak lama lagi senja akan tiba , pulanglah dulu ... Minggu depan aku akan kembali ke sini untuk mengajarimu ," ucap anak laki-laki tersebut meyakinkan .
" benarkah , tapi kamu harus janji untuk datang yah , kamu harus ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil .
" Iyya ... aku janji ,"
" janji ," gadis kecil mengulurkan jari kelingkingnya , anak laki-laki itu menyambutnya , lalu mereka mempertemukan ibu jari masing-masing sebagai tanda bahwa janji tersebut harus dilaksanakan . Kedua anak itu tersenyum , lalu ibu sang gadis kecil memanggil untuk pulang , gadis kecil berlari meninggalkan anak laki-laki itu . Ketika sudah sampai di hadapan ibunya , ia berbalik lalu melambaikan tangan sambil tersenyum kepada anak laki-laki tersebut . Anak laki-laki itu balas tersenyum , ia melihat kepergian gadis kecil itu lalu berjanji dalam hati , minggu depan ia harus kembali ke tempat ini ...

